Feed on
Posts
Comments

…TOGA…

Mendengar kata ini…pikiran saya teringat pada sebuah kostum kebesaran, berwarna gelap, lengkap dengan Topi…dan saat membahagiakan karena Toga dipakai saat seseorang menyelesaikan sebuah perjalananan studinya pada suatu jenjang.

Tapi….ketika saya memasuki dunia lain, mulai tahun 2001, (…dari dunia pengusaha ke dunia sosial kemasyarakatan, di PKK khususnya), Toga berarti lain. Ternyata TOGA adalah singkatan dari Tanaman Obat Keluarga. Beberapa kali saya mengikuti penyuluhan tentang Toga dari Dinas Kesehatan maupun Dinas Pertanian serta lembaga lain tentang pentingnya Toga. Dalam hati saya bertanya, “…halaaaah…opo maneh iki..yang kemarin saja, tentang posyandu, tentang Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, Bina Keluarga lansia dan istilah-istilah Bumil (Ibu Hamil), Bufas (Ibu Nifas), PUS, WUS…dll akeh banget belum jelas dan tidak hafal je… sudah harus belajar lagi..”. Ternyata lagi…di PKK… buanyaak yang harus dipelajari, saya jadi rumangsa Bodo tenaaan… pinternya cuma jualan, jualan batik, jualan baju muslim, jualan jasa perawatan, dan lain-lain..

Nah, beberapa waktu yang lalu... kebijakan akan obat generik, juga asuransi kesehatan/jaminan kesehatan untuk masyarakat Miskin masih belum jelas dan kurang disosialisasikan, sehingga obat-obatan alternatif yang berasal dari Tanaman Obat Keluarga (TOGA), yang bisa ditanam sendiri dengan lahan terbatas menjadi anjuran secara terus-menerus. Minimal bisa mengurangi biaya obat-obatan ketika sakit. Sakit yang ringan bisa dikurangi dengan mengkonsumsi tanaman obat. Saat ini berbeda, karena bu Men Kes, punya kebijakan Obat generik murah…serba Seribu…Rp.1000. kebijakan yang pro rakyat... (tapi saya pun belum pernah ikut mengevaluasinya, seberapa jauh dampak positipnya).

Sebetulnya kalau dipikir-pikir… kakek nenek buyut kita, yang hidup dimasa lampau, sangat lekat dengan obat-obatan tradisional yang berasal dari tanaman di sekitar kita. Produk akhirnya berupa jamu godokan, jamu yang diproses lalu dikonsumsi maupun jamu yang sudah menjadi serbuk. Beberapa perusahaan jamu tradisional yang cukup maju ditanah air telah berhasil memasarkan ke seluruh pelosok dan bahkan ke negara tetangga. Ya…jelaas, mereka punya anggaran untuk penelitian… sehingga konsumen akan percaya keamanan produk tersebut, walaupun tidak semua orang cocok.

Buku-buku tentang Toga bermunculan, produksi obat-obatan herbal semakin marak…minat masyarakat untuk menanam tanaman obat juga bertambah. Termasuk saya sendiri membeli, menanam beberapa jenis tanaman obat, dengan niat ikut ngombyongi dan mencocokkan dengan beberapa penelitian… baik tingkat lokal maupun nasional. Setiap kali ada iklan tentang produk herbal dan khasiat tanaman obat, saya selalu berpikir… seberapa manfaat dan bukti keberhasilannya ya… karena tiap jenis yang ditawarkan mengandung khasiat tertentu yang berbeda. Dan seberapa aman ya…?? Jangan-jangan ada efek samping… Waaah jadi nggak pede nih kalo kasih info ke warga..

Saat ini…dari negara tetangga, terutama Cina, bahkan negara besar memasarkan produk hasil olahan tanaman obat menjadi produk -roduk kesehatan yang cukup menarik, baik kemasan, khasiat, cara pemasaran maupun harganya yang bervariasi. Ada yang sangat mahal, satu botol kok Rp 1.000.000,-... ada yang mengharuskan untuk mengkonsumsi dalam waktu yang lama… Jadi…?? Beliii teruus….. ;) , seperti food supplement. “Waah..memang Indonesia itu pasar yang sangat maniiis.. apa-apa laku, berapa harganya juga laku… apalagi iklannya Heboh, manfaatnya ada…, waaah…pasti deh pada beli…”, begitu kata seorang teman yang sukses pada binis MLM.

Lha…trus yang pada sulit-sulit menanam Tanaman Obat Keluarga..TOGA…untuk apa ya.?? dan nasibnya bagaimana….?? Ketika saya keliling kampung, hampir semua rumah menanam baik pada pot maupun tanah, dan ketika ada lomba antar kelurahan, halaman yang ditanami TOGA punya point nilai sendiri. Walaupun di dalam hati, ketika lomba-lomba berlangsung, saya sering tidak setuju, saya khawatir budayanya cuma berhenti pada lomba…setelah lomba..menang…3 bulan lagi BUBAR... Lho….?? kok tidak jadi perilaku ya..?? Pokoknya terus saja menanam, termasuk TOGA karena semua ada manfaatnya..perkara khasiatnya, biar para ahli yang meneliti…kita tunggu. :)

Ternyata sahabat... Indonesia sangat kaya dengan tanaman obat. Lihat saja…, ada lidah buaya yang bisa menurunkan asam urat dan untuk sariawan serta vitamin rambut, binahong untuk obat luka, darah tinggi, daun kepel direbus untuk mengurangi asam urat, kaktus entong untuk mengurangi batuk, sirih merah untuk diabetes, sirih hijau untuk mengurangi batuk dan anti septik, jeruk purut…buah dan daunnya berguna untuk aroma terapi. Nah…, itu saja yang sempat saya tanam di halaman rumah pribadi, kalau kita cermati lagi sangat banyak jenis-jenis yang lain dengan berbagai khasiat.

Yang paling penting adalah….bagaimana mensosialisasikan khasiat, cara mengkonsumsi, juga hasil penelitian terhadap TOGA tersebut,a gar pengguna tanaman obat tersebut merasa aman sekaligus terbantu menghemat biaya pengobatan. Karena yang terjadi saat ini, ketika tanaman obat tersedia di halaman masing-masing, tetapi belum tersedia referensi dan buku yang cukup serta hasil penelitian tentang manfaat tanaman tersebut dalam bentuk sederhana, sehingga masih terjadi keraguan untuk mengkonsumsinya.

Saya menyadari…bahwa untuk sebuah penelitian butuh biaya yang sangat mahal, oleh karenanya kerja sama antar Lembaga, Perguruan Tinggi, pemerintah, BPOM, organisasi kemasyarakatan sangat diharapkan, agar produk Tanaman Obat Indonesia…memperoleh kepercayaan (sama levelnya dengan produk Cina… karena sampai hari ini mereka leader dan dipercaya), sehingga memberi hasil guna bagi yang menanam maupun yang mengkonsumsinya. Bukan rahasia lagi….obat-obatan KIMIA…sangaat mahal.. kalo toh murah…Generik… masyarakat terlanjur kurang percaya… Ono REGA ono RUPO....katanya. Sing larang bikin sugesti mantep untuk sembuh. Walaupun saya setuju bahwa obat terbesar dari sakit adalah semangat untuk sembuh, serta upaya pengobatan. :)

Salam, DS

Hamil…..

HAMIL….???? Bisa jadi Alhamdulillah untuk pasangan yang baru saja menikah dan pasangan yang sudah sangat menunggu-nunggu. Kehamilan juga bisa jadi cerita sedih… untuk mereka yang belum siap. Lho……kenapa…..???

Sahabat……

Ada cerita sisi yang lain dari HAMIL…, yaitu Saat dimana Orang tua mempersiapkan diri akan hadirnya permata mungil…titipan Allah. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Kemarin saya memberi materi pada Acara Desiminasi Ibu Hamil se-Kota yogyakarta, yang dihadiri wakil-wakil ibu Hamil (ada sekitar 100an Ibu~hamil semua~), kader pendamping dan teman-teman Puskesmas serta kader PKK se-Kota Yogyakarta. Pertanyaannya adalah… “Lho…Bu Dyah bicara apa…?? Wong Ibu saat hamil terakhir sudah 18 tahun yang lalu, kan sudah sangat berbeda. Berbeda jaman, berbeda kondisi, berbeda ilmu, juga berbeda perilaku….”. :)

Saya mencoba mengecek data sebelum hari H pertemuan itu. Saya penasaran dengan berita di Koran… Angka Kematian Ibu dan bayi lahir masih relatif tinggi…ayooo peduli pada kesehatan Ibu hamil, mari kita tingkatkan kualitas kesehatan bayi mulai dari kandungan.… Bersyukur, di Kota Yogyakarta…sampai Oktober 2008, hanya ada 1 ibu hamil meninggal karena sakit bawaan/jantung, bayi lahir meninggal tahun 2007 di Kota Yogya relatif sedikit, yaitu 15 dari jumlah Ibu hamil yang melahirkan per tahun kira-kira 5000 orang Ibu. Ibu hamilnya sejumlah 5000….??!! …..Lha kok banyak ya …..??…1,05% jumlah kelahiran baru… KBnya bagaimana nih…?? Dulu Jogja sempat jadi Window show ….eh..show window je, kok sekarang banyak kelahiran... Idealnya adalah dibawah 1% dan 2 anak lebih baik.

Padahal, di negara-negara seperti Jepang dan Korea selatan angka kelahiran sangat kecil…bahkan pernah minus, artinya seharusnya butuh generasi pengganti sejumlah tertentu, tapi malah kurang dari jumlah yang diseyogyakan. Ketika berkunjung kesana, saya sempat dialog dengan staf pemerintah Propinsi yang kami kunjungi. “Disini…setelah berumah tangga, mau punya anak,….pikir-pikir dulu ibu, apakah sudah cukup dana tabungan (dia katakan sejumlah tertentu…kalo uang Indo 250 juta), untuk biaya dari hamil sampai lahir, Playgroup, TK, SD, SMP, SMA…” Walaupun kami berdua bekerja (maksudnya istri juga bekerja), kami harus berhati-hati sekali, karena kami tidak ingin punya anak yang tidak bisa mendapatkan apa-apa yang terbaik, agar anak kami juga bisa berkualitas, bisa bersaing…untuk menjadi seseorang...”.

Walaaaah….hebat kali konsep berpikir dan langkah strategisnya... Kalo di Indonesia, mau punya anak, mau enggak, mau punya anak 1,2,…3….dan bahkan ada yang bablas sejumlah 7, monggo-monggo aja…. Weh..weh…walaupun repot setengah mati dan anak-anak gak kopen/ gak terawat, serta Ibunya gak sempat dandan…saking repotnya, masih saja si Ibu Hamil lagi…. Ffuuhhhh…

Nah…lho.. Hamil-hamil karepe dewe kok kita suruh pusing mikir ya….?? ;) Inilah bagian dari pekerjaan PKK, melalui Posyandu, pendampingan Ibu hamil, kita tidak ingin ada satupun Ibu hamil yang tidak sehat. Karena kita juga tidak ingin ada Ibu meninggal karena melahirkan, juga bayi lahir kurang berat badan dan hal-hal yang lain. Kalau dibandingkan dengan Angka kematian Ibu dan bayi secara nasional…kami di Jogja cukup baik….jauh lebih baik. Tetapi yang saya inginkan bahwa di Jogja harus ada kesadaran : “Hamil adalah proses mulia yang telah direncanakan dan perlu dijaga, dipantau, dipahami, dan siap menjadi orangtua yang baik agar dapat menghasilkan anak yang sehat, cerdas dan siap bersaing di manapun juga”, demikian saya mulai membuka pembicaraan pada penyuluhan tersebut…

Coba mbak-mbak hitung (persertanya masih seusia anak saya semua), berapakah biaya yang harus dikeluarkan ketika mbak-mbak hamil sampai dengan melahirkan….” Seorang kader menjawab; “Kalau lahir normal, kira-kira 5 juta Bu…” Lho…?? Yang jawab kok malah Ibu kader.Periksa minimal 6 kali, imunisasi 5 kali, vitamin tiap bulan, susu, biaya melahirkan, alat-alat untuk Ibu dan bayinya setelah melahirkan….”. Waduuh…banyak juga ya…untuk ukuran uang di Indonesia…

Kemudian seorang petugas Jamkesda dan Puskesmas ikut menjelaskan, kalau pemegang KMS (Kartu Menuju Sejahtera), khusus keluarga miskin…periksa gratis bu…, melahirkan juga gratis, dapat vitamin dan obat.… Nah, itulah program unggulan Pemerintah Kota, Ibu hamil sampai melahirkan (pemegang KMS ), harus sehat, dan harus melahirkan bayi yang sehat.

Permasalahannya adalah…apakah calon pengantin, calon Ibu dan calon bapak menyadari bahwa permasalahan ingin punya momongan tidak sesederhana itu. Apakah kita tidak malu….mosok mau nikah, punya anak….kok cari yang gratisan terus. Apa jadinya kalau suatu saat nanti anak kita mengetahui, bahwa seharusnya adalah kewajiban orang tua memberi yang terbaik untuk anaknya dengan jerih payah dan upaya yang sungguh-sungguh.

Saya melanjutkan…..;” Embak-Embak. calon Ibu. kalau dalam masa hamil, mbak-mbak merasa sedih, murung, tidak bahagia, banyak persoalan, nggak pernah periksa kesehatan ke Bidan, Puskesmas atau layanan kesehatan lain….Anak yang dikandung akan terpengaruh, murung dan pertumbuhannya tidak sehat…“.

Kenapa banyak persoalan? Karena masyarakat kita tidak terbiasa dengan segala sesuatu yang terencana…tidak terbiasa dengan menabung, maka saat harus membayar sejumlah biaya tertentu sudah bingung kesana kemari, termasuk biaya menjelang kehadiran si permata kecil. Nah…ternyata kalkulasi sejak menentukan pernikahan memang sangat diperlukan…agar keluarga-keluarga di Indonesia punya perencanaan hidup yang sehat, perhitungan yang teliti terhadap segala sesuatu yang akan dilakukan.

Gak bisa nabung Bu….cuma pas-pasan kata mereka… Lha kok bisa nyicil motor, TV gede, sewa VCD, ganti Handphone…??? …semua tertawa….dan menjawab, “Untuk hiburan Bu….”. Weeeh…lha kojur iki…, jawab saya… ” Hadirin…. …calon anak itu kan rencana bersama bapak dan Ibunya…hasil kompromi Ibu dan bapak…iya to? Maka harus mendapat prioritas, dan segala yang terbaik. Kalau orang tuanya gak peduli, muram terus…atau bertengkar terus karena banyak masalah, maka anak yang lahir akan menjadi orang yang acuh tak acuh dan pemarah…begitu penjelasan teman-teman psikolog. ” Lha.. kalau sudah terlanjur Bu….tanpa perencanaan juga tanpa tabungan, bagaimana Bu…??”. Nah….harus pandai-pandai memilah mana dan apa yang sangat prioritas.

Sampai dirumah…saya masih merenung. Saat ini, kehidupan makin sulit, apa-apa mahal, persaingan demikian ketat. Tapi celakanya masih banyak masyarakat kita yang tidak hati-hati, tidak mempunyai perencanaan yang jelas, tabungan yang cukup serta masa depan yang diupayakan dengan sungguh-sungguh. Kadang-kadang…betul juga…banyak hal dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah, juga Yogyakarta, membuat mereka tidak prihatin…tidak mau bekerja keras untuk memperbaiki nasibnya menjadi lebih baik dan makin baik.

Padahal jaman sekarang…walaupun ada fasilitas pemerintah misalnya : kesehatan gratis, beasiswa, BLT …bagi yang tidak mampu..kalau tidak disikapi dengan baik akan menambah jumlah pemalas yang nyaman dengan MINTA HAKnya, tanpa pernah sadar TANGGUNG JAWABnya, sebagai orang tua, sebagai warga masyarakat dan juga sebagai mahluk Allah.

Itulah…sekelumit sudut kehidupan…akankah bertambah lagi jumlah warga miskin di Indonesia…?. Untuk Yogyakarta, saya percaya….program KMS (Kartu Menuju Sejahtera), hanya sementara…bagi mereka yang belum beruntung. Saya berharap…..setiap warga Jogja….Insya Allah punya cita-cita untuk lulus dari KMS, karena pada dasarnya, kemandirian secara ekonomi dan sosial akan dapat membuat kita lebih banyak bisa berteman, berkarya, juga beribadah menuju keluarga yang bahagia dan sejahtera. Apabila pelajaran kemandirian kita berikan sejak usia dini……kita akan menuai generasi yang akan datang yang lebih baik, lebih cerdas, lebih bertanggung jawab. Amien… InsyaAllah…

~DS~

Lihat kebunku….

Posting ini saya tujukan khusus untuk Mbak Ayik dan Mbak Ernut… serta sahabat blogger yang sangat cinta tanaman…dan dalam postingannya sering mengulas berbagai tanaman bunga, buah, tanaman hias, dan alam sekitar.

Pagi ini…tanah di halaman rumah saya cukup basah, karena semalam udan deres, gak berhenti sampai tengah malam. Seperti baiasanya saya keluar rumah untuk jalan kaki muter seluruh halaman, dan keluar rumah melewati jalan depan rumah tetangga kanan kiri. Semua pintu masih tertutup…setelah sholat shubuh…meneruskan malas-malasan kali ya…….karena memang udara cukup dingin..

Sambil jalan keliling saya amati hasil uji coba lubang biopori.untuk menangkal genangan dan menyelamatkan air tanah, yang baru beberapa hari ditambah jumlahnya oleh tukang saya. Pertama saya praktekkan biopori ketika teman teman IPB Bogor menulis pada majalah Tempo beberapa bulan yang lalu..segera saya menirunya, dan saya tambah ketika debit air hujan lumayan banyak.

Untuk apa….??? Agar besok ketika keliling kampung, pertemuan warga..saya bisa mensosialisasikan melalui PKK, Pak RW, LPMK, dan masyarakat umum, karena saya sudah mencoba dan membuktikan…

Lho….? Lihat kebunku_nya mana bunda…??? ;) kok mubeng mubeng ya… Hehe… Jangan khawatir mbak Ayik, Mbak Ernut… Ini dia koleksi tanaman bunga (maksudnya benar-benar berbunga) di kebun halaman saya. Jangan berpikir… “Lho…bunda jualan tanaman juga ya…??” Halaahhh…opo-opo kok di dol (halaahhh….apa-apa kok dijual)…?? :)

Kisahnya begini…, ketika saya di PKK bersama dengan pemerintah kota sepakat untuk membuat kota Jogja hijau sampai ke kampung-kampung, maka PKK punya program unggulan “Gemar Menanam”. “Pokoke Ibu-ibu senang menanam. apa saja, anggere gelem nandur (pokoknya ibu-ibu senang menanam, apa saja, asal mau menanam)”. Perkara yang berikut adalah…kami menjelaskan kenapa harus menanam….

Selain mengurangi polusi, juga untuk menjaga suhu udara, kadar air tanah…dan yang penting agar anak cucu kita, masih punya harapan akan adanya alam yang sehat dan menjanjikan kehidupan lebih baik, serta mereka akan meniru, merawat dan mengembangkan.

Nah…, dengan adanya program Gemar Menanam ini nih…, setiap saya keliling ke wilayah kampung-kampung, juga ketika mereka mempresentasikan dalam bentuk Pameran….ya…harus beli…. :) (konsekuensi nie ceritanya…. ;) ), tanaman apa saja, malah sok-sok dobel-dobel….ya wis gak apa-apa.

Sehingga, akhirnya di rumah saya penuh tanaman bunga, buah dan juga tanaman yang dianggap sedang trend. Berhubung saya juga suka tanaman…suburlah mereka tumbuh di “kebunku” seperti yang saya posting khusus ini.

Ada bunga sepatu, ada bunga nyonya makan sirih, pagoda putih….yang kesemuanya pemberian sahabat yang mengetahui kalau saya suka tanaman. Ada koleksi puring, si ungu cantik, heliconia, anggrek, yang saya beli dari warga di beberapa wilayah.

Tanaman buah yang dipamerkan pun, juga saya beli. Ada nangka mini, kedondong mini, jambu kancing, jeruk, jambu air, belimbing, pisang, mangga, dll.

Selain itu ada buah cermai, buah kepel, yang mungkin tidak semua orang punya tanaman itu ya… :) Kata mereka…, “Ibu, ini hasil budidaya tanaman dari program Gemar menanam ajakan Ibu.”

Nah…., antara senang, bangga dan berpikir… saya tanam dimana lagi yah…??? ;) Hayoh… belum lagi nanti kalau ada yang menawarkan durian montong dan duwet putih…. ;)

Mudah-mudahan dengan kesadaran menanam dari seluruh warga Jogja, akan membuat Jogja hijau dan indah, udara yang segar dan bersih serta nyaman untuk dikunjungi.

NB : Maaf sahabat, saya akan off kira kira 5 s/d 7 hari, karena akan keluar kota…mudah-mudahan ada pengalaman menarik juga yang bisa saya bagi disini :) .

Salam, DS

Koran pagi di tahun 2003…

Jegleeer... begitu dahsyat dan sangat mengagetkan berita pagi itu….. “Jogja Kota Pendidikan…Jogja Ada  Seks Bebas…” Pastinya hari itu, dalam minggu itu, dan mungkin selama satu bulan……para orangtua sibuk menelpon, menjenguk/menengok putra putrinya, mencari tahu kebenaran dari berita itu, dan akan khawatir selama belum ada kejelasan. Apa kira-kira yang akan terjadi pada anak-anak mereka…kalau berita itu betul…tentunya sangat merugikan kami, warga jogja. Mari kita tunjukkan bahwa berita itu tidak benar… Jogja masih Kota Pendidikan yang baik….

Saya terduduk lemas… Baru beberapa bulan yang lalu, kami mendata dan melakukan komunikasi dengan pemilik pondokan di salah satu kecamatan di Kota Yogyakarta, tiba-tiba berita tak sedap itu muncul. Pendataan kami lakukan (PKK bersama instansi terkait dan mahasiswa KKN), untuk memudahkan komunikasi dengan pemilik kos/pemilik pondokan maupun Anak kos. Hasil sementara saat itu, ada satu kelurahan yang memiliki sekitar 400 Rumah kos…hal ini menyadarkan kami, warga jogja, bahwa pendidikan adalah salah satu lokomotif perekonomian kota Jogja, setelah sektor pariwisata.

Benarkah berita itu….?? Saya tidak memungkiri bahwa ada saja kasus tersebut, tidak hanya di Jogja, tetapi juga di kota-kota lain. Tapi ketika seks bebas itu ada di kos-kosan, di tempat anak-anak kita tinggal untuk tujuan belajar…., ini sangat meresahkan, menyedihkan. Mau dibawa kemana masa depan anak-anak kita….?? Mau jadi apa mereka…??? Siapkah mereka meneruskan perjuangan kita…? Kami segera melakukan berbagai kegiatan *untuk menunjukkan Jogja masih menjadi kota tujuan belajar, Anak Kos masih pada tujuannya, yaitu belajar dan… tidak benar berita seks bebas.*

Saya segera bertemu dengan Pak Camat, Pak Lurah, serta ibu-ibu Kader PKK, untuk membuat gerakan yang konkrit dan membuktikan pada semua orangtua anak kos yang tinggal di seluruh Indonesia, bahwa Jogja masih kondusif untuk belajar, bahwa anak-anak masih bersemangat belajar dan dalam kondisi baik-baik.

Gerakan itu saya namakan SAPA ANAK KOS…(sapa berarti SAyang PAda, atau menyapa….). Kegiatan Sapa Anak Kos intinya adalah melakukan komunikasi yang efektif dengan anak-anak kos, Asrama daerah dan non asrama, serta berkomunikasi dengan pemilik pondokan. Untuk anak kos kita kunjungi rumah ke rumah, Asrama ke Asrama hingga 33 propinsi (saat itu tahun 2003). Waahhhhhhh…gak bayangkan ya…asyik sekali…..keliling Indonesia ;) tapi gak harus kemana-mana, cukup di Jogja aja… Papua, Sulawesi Tenggara, Sulsel, Sumbar, NTB, Kalteng, Kaltim, Aceh, Riau, Jawa Barat, Lampung, Bali, Bangka, dll…

Bersama Pak Lurah, Pak Camat, kader PKK dan tokoh masyarakat setempat kita kunjungi mereka, agar mereka merasa dihargai sebagai warga Jogja (walau cuma sementara), dan mereka tak merasa asing. Mereka diajak dalam kegiatan kampung setempat, membaur bersama masyarakat dalam forum-forum kajian, olah raga, kerjabakti, dll. Alhamdulillah, baik anak kos maupun pemilik pondokan menerima dengan senang hati program ini dan seterusnya mereka mengembangkan sendiri sendiri sesuai kebutuhan masing-masing.

Di tingkat Kota, secara rutin kami mengadakan kemah, buka bersama, penyuluhan narkoba, diskusi dengan topik yang berbeda-beda serta menerima usulan-usulan dari anak kos mengenai berbagai hal. Mereka juga kami minta masukannya tentang Jogja, apa yang harus kami lakukan untuk mereka…akhirnya cairlah suasana… Bahkan beberapa dari mereka merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan saya dan ibu-ibu Jogja, yang saat ini sedang menjadi IBU PENGGANTI, selama mereka ada di Jogja, karena mereka jauh dari orang tua. Katakan pada ayah ibu di rumah masing-masing …bahwa kami siap menjadi tuan rumah yang baik, orang tua pengganti selama kalian berada di Jogja , demikian selalu saya sampaikan pada setiap kegiatan keliling kos-kosan.

Untuk pemilik kos, bersama Pak Lurah dan Pak Camat serta tokoh masyarakat setempat, dilakukan diskusi, penyuluhan tentang berbagai hal, termasuk ijin-ijin penyelenggaraan pondokan (HO) yang harus dimiliki. Dari sisi NURANI, saya selalu katakan dalam setiap pertemuan. selalu saya sampaikan kepada Ibu dan bapak pemilik pondokan; Apabila hanya unsur komersial yang dikedepankan, tanpa ada tanggung jawab moral, sosial…. maka hasil dari usaha pondokan itu tidak bermanfaat…akan mubazir... Oleh karenanya, mohon anak kos dianggap seperti anak sendiri (…bukan gak bayar lho… ;) ), ikut mengawasi, ikut menyayangi, agar anak-anak tersebut akan belajar dengan baik, berteman baik, bersosialisasi dengan baik dan akhirnya ekonomi Jogja pun akan menjadi baik, karena realitanya anak-anak kos akan menghadirkan usaha-usaha kecil yang tumbuh pada masyarakat (cucian/laundry kiloan, warung makan, Jual pulsa, warnet, dll)….. “.

Beberapa tahun program berlanjut dengan baik, bahkan berkembang dan dinamis karena kami melibatkan karang taruna, anak muda Jogja, organisasi anak-anak muda, anak kos dari berbagai daerah dalam setiap kegiatan. Sehingga kemasan kegiatan menjadi sangat ANAK MUDA, hasil rembugan mereka , bukan atas kemauan saya, ibu-ibu, instansi, dll karena saya menyadari bahwa kami berbeda sekian puluh tahun dengan usia mereka, tentu akan sangat berbeda sudut pandang dan gagasan-gagasannya. Dan akhirnya mereka punya organisasi dengan nama KCC (Kos Crisis Center), untuk wadah kegiatan setiap saat, dan kami masuk pada unsur penasehat.

Sampai akhirnya, kami (PKK) berhasil ikut menghasilkan usulan disahkannya sebuah Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pondokan, yang intinya berisi kesepahaman antara masyarakat, pemilik pondokan dan aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh anak kos, pemilik pondokan, dan payung hukum bagi aparat, pak RT, pak RW, pak Lurah, dst ketika terjadi pelanggaran pada penyelenggaraan kos-kosan. Secara jelas, pemerintah kota Jogja TIDAK bermaksud untuk mencari PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari kegiatan ini, tetapi lebih kepada ketertiban kependudukan, ijin usaha, etika, sopan santun, hak dan kewajiban anak kos maupun pemilik kos.

Sahabat…..

Pertanyaannya adalah, seberapa efektifkah gerakan itu….? Secara kuantitatif, data rumah kos di Kota Jogja saja kira-kira ada sekitar empat ribuan (4.076) yang tersebar di 14 kecamatan, dan kuliah pada 15 perguruan tinggi swasta dan negeri (UIN, UAD, STIE YO, Duta Wacana, Stikes Aisyiah, Stikes, AKPRIND/sekarang Sekolah Tinggi, STIPER, dll). Ini belum termasuk UGM, UII, UMY, UPN, UNY, yang letaknya di Kabupaten Sleman dan Bantul.

Nah….., kalau ditanya seberapa efektif kah…?? Jawaban saya adalah, sudah meningkatnya pemilik pondokan yang mengurus ijin, secara rutin kita mengadakan acara dan kegiatan bersama anak-anak kos, terciptanya LABEL BAIK bagi kota pendidikan Jogja tercinta. Karena dengan berbagai komunikasi, kami mampu meyakinkan orang tua untuk mempercayakan pendidikan di Jogja, melalui berbagai forum, ketika bertemu dengan peserta seminar, pelatihan istri-istri kepala daerah, selalu saya sampaikan bahwa kami akan menjadi tuan rumah yang baik, ibu atau orang tua pengganti untuk anak-anak yang kuliah di Jogja. Anak kos yang telah lulus akan menjadi agen Promosi kebaikan Jogja, kesiapan Jogja untuk menjadi tujuan pendidikan, kondusifnya Jogja untuk anak sekolah.

Konkritnya? Dengan senang hati pemda dari seluruh nusantara menerima usulan Pemerintah Kota Jogjakarta, bahwa Asrama Daerah bisa digunakan untuk Anjungan daerah…sehingga kami orang Jogja yang belum pernah ke daerah-daerah tersebut bisa melihat, belajar, tentang adat, budaya daerah lain, agar lebih familiar dan tak rentan konflik karena mudah diakses oleh masyarakat dan tidak berkesan eksklusif. Dari kunjungan terakhir ke asrama daerah, beberapa asrama sudah membuka diri untuk Anjungan Daerah, bisa diakses oleh masyarakat, dan Asrama nampak bersih karena siap menerima tamu.

Sebuah kebahagiaan tentunya ketika salah satu dari mereka, pada suatu siang menelpon/sms… Ibu, atas doa Ibu saya telah lulus pendadaran, dan akan wisuda 2 minggu lagi…mohon doanya”. Terharu dan bahagia rasanya, dengan spontan saya menelpon balik mengucapkan selamat, serta mengajak makan bersama dengan Ibu-ibu dan pengurus yang lain. “…..Saya bangga kalian bisa belajar dengan baik…lulus dengan baik dan dapat dua ijazah…Universitas formal, dan ijazah Universitas Kehidupan, karena kalian banyak bergaul, bersosialisasi dan beraktifitas dengan masyarakat Jogja… Semoga akan menjadi poin penting ketika kalian akan mulai bekerja maupun berkarya lebih lanjut.. Amien….”.

Saya pernah menceritakan hal ini pada Forum diskusi istri-istri pejabat daerah yang diselenggarakan di Jogja… Mereka terharu dan menitikkan airmata. Ini sebuah upaya kecil, mudah-mudahan upaya yang lebih besar bisa kami lakukan untuk Jogja tercinta…. :)

Salam, DS

Older Posts »