Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 468

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 483

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 490

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 526

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-includes/theme.php on line 618

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 159

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 380

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 382

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 386

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 481
Halaman Ibu Dyah
Feed on
Posts
Comments

“LIMA - LIMA”

“5 ditambah 5 =10.. dan 5×5 sama dengan 25… dan lima jari dengan lima jari di satukan menjadi tepuk yang nyaring… serta 5 disebelahkan dengan 5  adalah LIMA PULUH LIMA”.. begitu di suatu sore  saya menggumam sendiri .

“Walaah…. Ibu itu sedang apa to, menghitung kok nggak pakai kalkulator…” begitu tanya mbak mbak asisten saya.

“Ini lho mbak….besok itu bapak berulang tahun…ternyata sudah 55 tahun. Ternyata, sudah hampir 5 tahun usia cucu saya.. sudah hampir 10 tahun  atau 2 kali 5 tahun saya mengabdi sebagai pelayan masyarakat kota Yogyakarta dan sudah lewat 5 tahun dari angka 25 tahun… pernikahan saya berlangsung. Serba LIMA”

Malam harinya…saya kabari anak-anak… sekedar mengingatkan….”besok papa ulang tahun lho… jangan lupa mendoakan dan ucapkan selamat ya”. Dan jawaban mereka seperti biasanya…. “iya…iya mama….jangan khawatir…. kita akan  mengucapkan selamat dan mendoakan papa”.

“Besok ada yang ulang tahun nih…. sudah tua lho pa… LIMA-LIMA tahun”… demikian seloroh saya ketika suami pulang kantor.

“Iya…kita mau adakan acara santai apa ma… saya ingin santai undang teman teman dekat… sambil ngobrol.”

Langsung saya jawab…” Pesen di suatu tempat saja ya…hemmm…mama males repot repot…capek “

“Waah saya ingin undang teman teman dirumah… biar lebih santai…. setuju ya? ukan merayakan ulang tahunnya,tapi mensyukuri telah diberi kesehatan, kesempatan berkarya, mengantar anak-anak hingga dewasa.. itu saja maknanya.”

“Oooo….begitu…mmmm..” manggut-manggut sambil pusing ini kepala mikir repotnya… Dasar nggak suka masak, kalau suruh mikir hal seperti ini…. apalagi mendadak…. Waaah… lebih baik disuruh mengerjakan yang lain… beres-beres rumah… merawat tanaman atau ngitung ngitung dagangan.

Mata ini terbangun… seperti biasanya… jam 03.00 pagi…ternyata… anak-anak sudah lebih dahulu mengucapkan selamat dan mendoakan ayahnya. Cucu juga mengirim Voice note untuk Eyangnya… Waduuh… lha kok paling akhir….” Selamat Ulang tahun pa…. semoga Allah swt memberi sisa umur yang manfaat … sehat, selamat dan dijauhkan dari fitnah dan iri dengki.”

Pagi itu, seperti biasanya… jam 05 pagi saya sdh bersiap dengan  baju olah raga, dan mulai keluar rumah untuk jalan pagi. Baru berjalan 20 menit… saya dikagetkan rombongan komunitas bersepeda berseragam kuning. Kemudian datang rombongan berikutnya dan berikutnya… hingga memenuhi halaman rumah kami.

“Lho.. kok tiba tiba., tanpa kabar kabar… acara apa ini?” sapa saya kepada mereka….

“Mau memberi surprise bapak  Bu… kami rombongan komunitas bersepeda mau mengucapkan selamat ulang tahun pada bapak dan mendoakan bapak.” dengan cepatnya mereka mengatur tempat… menata  kue dan makanan yang mereka bawa sendiri.

Begitu suami saya keluar dari pintu… mereka memberi ucapan selamat dan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.. Kemudian tersenyum, haru, bahagia nampak pada wajah  pak Herry. Dalam sambutan spontannya… disampaikan ucapan termakasih dan apresiasi kepada seluruh anggota komunitas. Terus bersepeda, jadikan Jogja kota yang nyaman huni untuk warganya…. nyaman untuk bersepeda pula.

Harapan pak Herry… agar semua mengenang dan bersaudara dengan pak Herry bukan  karena sedang menjabat  walikota, yang terbatas waktu dan protokoler namun kenang dan bersahabatlah dengan Herry Zudianto  saja, orang biasa… selamanya. Inilah yang dinamakan persaudaraan sesungguhnya.

Satu demi satu pagi itu…ucapan selamat berdatangan dari para sahabat, dan relasi serta anak anakku dari unit unit usaha. Suasana di kantor pun  demikian meriah. anak-anak sekolah, komunitas pedagang malioboro, jajaran pemerintah kota, semua memberi selamat dan mendoakan.

Yang sangat menarik disampaikan oleh seorang anak Sekolah Dasar… “Pak wali… doa kami pada ulang tahun bapak yg ke 55… semoga bapak diberi kekuatan, kesehatan, sukses berkarya dan mengabdi pada masyarakat, dan mohon BERHENTI MEROKOK.”

“Sangat menyentuh… spontan dan tulus diucapkan oleh anak anak, minta saya berhenti merokok.” demikian diceritakan kepada saya ketika pulang kantor.” Lha trus… kok masih merokok ya…” kita doakan segera mengurangi dan berhenti merokok, karena kita tahu merokok tak ada manfaatnya.

Malam harinya …dengan dibantu oleh para sahabat…maka ngobrol santai pun dilaksanakan dirumah. Nampak keakraban diantara kita, mengobrol santai melepas sementara rutinitas yang ada.

“Terimakasih ya ma… telah mendampingi  papa selama hampir 30 tahun, terimakasih untuk semuanya “.

“Sama sama…mama banyak kurangnya…. suka cerewet… suka galak…suka ngatur… suka disiplin.. “Ya…30 tahun, atau 5 tahun kali 6… waktu yang cukup lama… dengan segala macam suka dan duka dan perbedaan yang cukup besar.

Dia suka nonton film…saya tidak, dia memilih diam… saya ribut dan sewot (eh..kadang-kadang)… dia sangat bisa  bergaul dan bersahabat dengan siapa saja… ramai ngobrol dirumah….. ehmmm… (saya kadang kadang tidak suka).. lebih suka hening… rapi… nyaman…. bersih….. dia simpel tidak rumit… saya sangat detil dan masih banyak lagi perbedaan yang ternyata tetap menyatukan kami…. demikian hal hal  yang diamati anak anak  terhadap kami,  ayah ibunya.

Itulah” the power of love.”….katanya…Waduuuh sok puitis.

Terimakasih semuanya… anak, mantu, cucu tercinta, para sahabat… relasi yang telah memberikan perhatian pada kami.. kasih sayang dalam persahabatan yang sesungguhnya. Semoga Allah memberi  kesehatan dan kemudahan pada sisa hidup kami… kemanfaatan untuk  keluarga, lingkungan dan masyarakat.

Aku anak sehat…

Kita semua tentu masih ingat.. pada tahun 1990-an, lagu ini sering kita dengar melalui Radio dan Televisi serta  pada acara acara anak anak. Syairnya kira kira demikian :

Aku anak sehat, tubuhku kuat

Karena ibuku rajin dan cermat

Semasa aku bayi selalu diberi ASI

Makanan bergizi dan imunisasi

Berat badanku ditimbang selalu

Posyandu menunggu setiap waktu

Bila aku diare , ibu selalu waspada

pertolongan oralit selalu siap sedia

Lagu ini mengingatkan program POSYANDU yang populer pada jaman Orde baru, jaman Ibu negara kita adalah Ibu Tien Soeharto. Posyandu  dilaksanakan di setiap kampung diseluruh pelosok Indonesia, dengan maksud agar masyarakat dibantu oleh petugas kesehatan dari Puskesmas setempat mampu melakukan deteksi terhadap tumbuh kembang balita yang ada di wilayahnya.

Ketika belum menjadi Ketua PKK kota Yogyakarta, saya tidak punya pengetahuan apa apa tentang Posyandu, karena anak-anak  saya ketika balita ditimbang dan diperiksa rutin oleh dokter anak, dengan pedoman KMS (Kartu Menuju Sehat). Bahkan kadang kadang saya tidak percaya, apakah Posyandu punya manfaat, karena saat ini fasilitas kesehatan sudah demikian baik.

Setelah menjadi ketua PKK…melihat realita ….

Dari hasil monitoring ke seluruh posyandu di kota Yogyakarta, didapat data masih  balita dengan status gizi bermasalah, yaitu buruk, kurang dan lebih, serta gizi baik. Jumlah balita di kota Yogyakarta pada tahun 2009 tercatat 23.400 balita dan yang menimbang di posyandu adalah 19.027 anak balita. Sisanya dianggap mandiri memantau kesehatannya melalui dokter atau rumah sakit swasta.

Dari jumlah tersebut  ditemukan 187 anak gizi buruk (0,98% ), 1.829 anak gizi kurang ( 9,6% ), 16.385 anak gizi baik (86,11%) dan 626 anak gizi lebih (3,29 % ). Padahal di setiap RW di seluruh kota Yogyakarta dipastikan dalam setiap bulan dilaksanakan Posyandu, dan kami dari tingkat kota memonitor pelaksanaanya. Kami pun pernah mendapat juara nasional Pelaksana Posyandu terbaik karena inovasi  berupa Buku Pintar Posyandu sebagai sarana mudah mencatat data hasil pelaksanaan Posyandu.

Tidak sabar rasanya, setiap pertemuan dengan petugas puskesmas, instansi yang terkait juga kader dan tokoh masyarakat saya selalu membahas mengapa masih demikian kondisinya, walaupun  bila dibandingkan angka nasional yang kira kira 10 %, Yogyakarta masih sangat baik. Tetapi saya berpikir dari sisi yang lain, yaitu bagaimana agar  orang tua  balita dengan status gizi bermasalah tersebut memahami permasalahan ini  dan mau mengupayakan anaknya menjadi status  gizi baik dan tumbuh kembang yang baik pula.

Karena sesungguhnya tumbuh kembang anak akan optimal apabila pada masa emas nya (yaitu  0 sd 60 bulan), mendapat asupan gizi yang cukup, menerima  pembelajaran  dan pendidikan anak usia dini secara intensif. Orang tua, bapak dan ibu nya harus berperan besar, tidak boleh menyerahkannya kepada pembantu atau orang lain.

Ketika pola asuh dan perilaku hidup bersih dan sehat dari orang tua dan lingkungan balita tersebut tidak diperhatikan, akan sangat mungkin status gizi kurang menjadi buruk. Dan ternyata, anak dengan masalah gizi buruk mempunyai persoalan yang sangat kompleks yaitu masalah pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan yang tidak sehat, dan kehamilan Ibu yang  tidak sehat serta penyakit bawaan yang lain.

Oleh karenanya segera saya mengumpulkan data by name dan alamat serta pekerjaan orang tua dari balita dengan masalah gizi buruk. Nah, ternyata tidak semuanya dari golongan tak terdidik dan golongan ekonomi lemah. Yang mampu dan terdidik pun ada yang mengalaminya, ini terjadi karena ketidak pahaman lingkungan keluarga dari balita tersebut.

Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, dan dibantu oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) serta di fasilitasi oleh pemerintah kota yogyakarta melalui Dinas Kesehatan akhirnya saya memberanikan diri untuk merintis pendirian RUMAH PEMULIHAN GIZI (RPG), menempati eks Sekolah Dasar Gading yang tidak terpakai karena sekolah tersebut telah melakukan re grouping dengan sekolah lain. Alhamdulillah, bapak Walikota dan semua instansi yang terkait sangat mendukung.

Mulai disain awal, layout ruangan, warna cat dan kebutuhan ruangan serta mebelair dan keperluan lainnya, saya kawal sesuai kepentingan dan nuansa  anak balita. Warna cat dinding yang  segar, sirkulasi udara yang maksimal, warna interior pendukung yang menarik serta tamanisasi dan  play ground yang lengkap sangat memberikan suasana ramah anak dan tidak berkesan klinik apalagi rumah sakit.

Rumah pemulihan Gizi adalah sebuah tempat perawatan secara komprehensif untuk anak balita dengan gizi bermasalah, tempat belajar bagi orang tua balita tentang bagaimana memberikan asupan gizi balita, dan tempat konsultasi untuk masyarakat umum tentang gizi balita. Di tempat ini di lakukan perawatan anak anak dengan kondisi gizi buruk dengan tanda berat badan yang sangat kurang dibandingkan dengan umur dan  tinggi badannya. Di tempat ini pula, orang tua harus belajar untuk memberikan formula dan asupan gizi yang benar dan baik untuk anak nya. Di RPG juga terintegrasi degan pendidikan anak usia dini, sehingga memungkinkan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dari sisi yang emosional dan intelegensi nya.

Setelah semuanya siap, kami dibantu tenaga kesehatan dan dokter spesialis anak (dr Endy Paryanto) serta para dokter muda yang lain, serta Pak Agus dari ahli gizi segera memulai operasional  Rumah Pemulihan Gizi.  Hal yang pertama dilakukan adalah melakukan skrining atau asesmen awal terhadap anak anak dengan gizi bermasalah. Dari jumlah yang ada  11 anak masuk kategori prioritas utama untuk dirawat, 8 anak perawatan intensif, 3 anak rawat jalan.

Melihat hari pertama  perawatan, nampak kegelisahan anak dan orang tua, karena harus berada di lingkungan baru, suasana baru, belajar banyak hal baru dan harus merawat anaknya dengan sungguh sungguh dalam hal asupan gizinya. Ekspresi mereka ketika menerima penjelasan dokter dan petugas kesehatan bermacam-macam. Ada yang nampak antusias ingin tahu, ada yang tak peduli dan ada yang biasa saja ada juga yang nampak canggung.

Hari hari pertama, sorot mata anak anak masih nampak gelisah, minta di gendong orang tuanya, bahkan beberapa nangis kalau  ada yang mendekat. Demikian pula kami, dalam hal pelayanan kepada  mereka  terus ada evaluasi dan perbaikan. Berat badan di timbang setiap pagi saat mereka hadir, orang tua melaporkan asupan gizi yang diberikan dirumah. Walaupun mereka tak ditarik biaya sedikit pun….. (malah diberi uang transport je…) kami sepakat untuk melayani dengan baik. Pengelola, tenaga kesehatan, dokter, ahli gizi, pendidik PAUD, tenaga administrasi dan cleaning service bekerja sama memberikan layanan yang terbaik.

Tibalah saatnya 12 maret 2010, hari yang dijanjikan… Rumah Pemulihan Gizi di resmikan oleh Ibu Mentri kesehatan Ibu dr.Endang Rahayu Sedyaningsih DR MPH PH.

Waaah… pasti teman-teman blogger akan heran, apa yang istimewa dari Rumah Pemulihan  Gizi  gagasan Ibu Dyah Suminar Ini….? Ternyata Ibu Men Kes sangat tertarik dengan RPG, karena pendirian RPG adalah  upaya konkrit, sesuatu yang riil dibutuhkan, sebagai tempat perawatan dan edukasi untuk anak dan orang tua balita agar penyelesaian masalah gizi bisa tuntas dan mereka bisa meneruskan dirumah karena sudah mendapatkan banyak hal  dari Rumah Pemulihan Gizi. Dan yang berbeda dengan daerah lain bahwa di Yogyakarta, Rumah Pemulihan Gizi terintegrasi dengan pendidikan usia dini  sehingga akan mendapatkan  hasil yang lebih optimal.

Dalam sambutannya beliau” memberikan apresiasi kepada upaya ini, karena masalah gizi balita sangat penting. Gizi baik pada balita akan menentukan kualitas bangsa di masa depan, akan menjadikan generasi yang akan datang lebih sehat, pandai, mandiri dan mampu bersaing. Kalau Yogyakarta yang tergolong baik dibandingkan dengan daerah lain maupun standard nasional, mau dan mampu melakukan upaya preventif, seharusnya bisa dicontoh oleh daerah lain”… demikian antara lain sambutan beliau.

Beberapa waktu setelah peresmian….

Saya sampaikan kepada seluruh pengurus, bahwa waktu saya mengabdi tinggal 18 bulan (karena jabatan kami  berakhir 20 Desember 2011 ). Peresmian adalah sebuah awal, sebuah penandaan bahwa kegiatan mulia telah dimulai. Yang penting adalah sesudahnya, yaitu cita-cita besar, bahwa bagaimana Rumah Pemulihan Gizi mampu melakukan fungsinya untuk memberi solusi dan penanganan kepada balita dengan gizi bermasalah, mampu memberikan edukasi bagi orang tua balita dan masyarakat umum tentang masalah gizi. Dan juga mampu melakukan upaya preventif melalui pendidikan gizi, penyuluhan, sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat, karena kedepan tantangan jaman  akan lebih dinamis .

Suatu hari….setelah mereka mendapat perawatan hari ke 14…

“Assalamualaikum… halo cucu-cucu….apa kabar hari ini?  semuanya nampak cantik dan cakep-cakep,,,, coba siapa yang pinter… nyanyi untuk eyang” demikian sapaan saya.

Satu persatu menunjukkan kebolehannya… ada yang menyanyikan lagu…. ada yang menunjukkan gambarnya, ada yang menunjukkan  bahwa dia bisa bermain ayunan, main di jembatan titian. Mata mereka berbinar, nampak berseri wajah-wajah mungil itu.  ” Aku bisa nyanyi Eyang… aku mau nggambar eyang….” sambil mengacungkan 2 ibu jari mereka.

Dan yang sungguh menggembirakan, orang tua mereka sudah belajar mengolah makanan bergizi dan formula khusus, membaca buku menu balita, membaca buku di perpustakaan dan mau mengkuti penyuluhan yang kami berikan sambil menunggui anak-anaknya.

Saat hari ke 24 mereka dirawat…dokter menyatakan 7 anak dari 8 anak telah lulus dan cukup berat badannya, sehingga bisa meneruskan perawatannya dirumah dengan dipantau oleh petugas gizi Puskesmas setempat dan kader Posyandu. Alhamdulillah…saya terharu mendengarnya…. mereka sangat berterimakasih pada kami, dan menyatakan sanggup melakukan yang terbaik untuk anaknya. Minggu ini kami telah melakukan asesmen berikutnya, yang dinyatakan prioritas akan segera dirawat dengan tatalaksana yang telah ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing balita.

Nah… kalau sudah semua yang bermasalah sudah sehat… lalu bagaimana ??…. ini pertanyaan beberapa rekan media..

Dari hasil pengamatan kami, penyebab gizi bermasalah  dan menjadi buruk adalah sangat kompleks. Mulai dari kehamilan yang tidak sehat, asupan makanan yang sangat kurang, tidak menerima ASI, lingkungan  dan faktor sosial ekonomi tidak mendukung serta ketidak pahaman orang tua akan pentingnya gizi. Oleh karenanya, penyelesaian masalah harus tuntas, fokus dan terprogram dengan baik dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan asesmen awal dari masing masing anak. Sangat di mungkinkan gizi kurang akan menjadi gizi buruk dan gizi baik akan menjadi kategori gizi kurang dan seterusnya, apabila upaya preventif tidak dilakukan.

Jadi… Rumah pemulihan Gizi akan terus melakukan kegiatan…. selama masih ada balita dengan gizi bermasalah. Edukasi tentang gizi dan pola asuh juga tentang pendidikan anak akan menjadi agenda rutin kegiatan kami. Kami juga membuka kerjasama dengan siapapun yang saling memberi manfaat untuk solusi  permasalahan gizi balita.  Lokasi yang strategis, fisik gedung dan suasana yang ramah anak, yang berlokasi di jln, Mayjend Sutoyo 32 Telpon 0274 -411120 akan memberikan pelayanan sebaik baiknya  kepada seluruh masyarakat kota Yogyakarta berupa konsultasi, penyuluhan, informasi dan segala hal tentang gizi balita.

Gizi buruk,,gizi bermasalah pada balita masih menjadi permasalahan besar pada  banyak daerah di  Indonesia. Sangat prihatin, ketika Hari Gizi dan permasalahan Gizi buruk hanya diselesaikan dengan demonstrasi turun kejalan, atau sekedar memberi makanan tambahan sesaat, tanpa melakukan upaya yang konkrit dan berkesinambungan. Posyandu menunggu setiap bulan, puskesmas  mudah di akses, dokter juga cukup banyak…. namun persoalan gizi adalah pola asuh dan menyangkut perilaku hidup sehat sehingga memerlukan upaya yang komprehensif.

Rupanya… lagu Aku Anak Sehat..tubuhku kuat...dst akan  terwujud kalau  semua pihak menyadari bahwa pemenuhan hak anak, termasuk didalamnya  memberi yang terbaik dalam bidang kesehatan dan pendidikan adalah hal yang mutlak harus dilakukan.

Melalui berbagai program dan upaya  kota  Yogyakarta   di tahun 2010 menyatakan kesungguhannya  sebagai Kota Sehat dan Nyaman Huni dengan Pengelolaan fasilitas Publik yang memadai. Sehat, aman dan nyaman bagi seluruh warganya  melalui berbagai upaya peningkatan kualitas pelayanan. Rumah pemulihan Gizi merupakan salah satu upaya menuju sehat bagi balita.

Terimakasih kami kepada teman teman Instansi (Dinas Kesehatan), dukungan  Bapak Walikota, para dokter yang dipimpin dr Endi Paryanto, Ibu-ibu PKK, adik-adik pendidik, pengasuh, bagian administrasi, dapur, cleaning service dan keamanan. Saya selaku penggagas Program ini berharap… dimasa yang akan datang… Rumah pemulihan Gizi akan lebih punya manfaat untuk masyarakat, lebih berkembang sesuai tuntutan kebutuhan…. Amieen….

Imlek dan sisi lain

Saat saya usia SD, telinga dan mata ini sudah familiar dengan IMLEK, karena saat itu warga keturunan Tionghoa di Indonesia merayakan acara Imlek dengan berbagai kegiatan ritual maupun kesenian pendukung.

Ada Barongsai, juga ada Wayang Potehi.. dan macam-macam kegiatan lain. Sekolah Tionghoa pun nampak ada di kota saya tinggal, Cilacap.

Saat orde baru berkuasa, banyak hal menghalangi warga keturunan untuk beraktifitas maupun merayakan ritual dan tradisi mereka. Larangan menggunakan nama Tionghoa, merayakan ritual tradisi dan hari raya Imlek sampai tulisan Cina serta berbagai akses yang tidak bisa di masuki oleh mereka demikian nampak.

Terlepas dari soal soal konflik, pengaruh negatif, dan masalah politik saat itu, mari secara enteng-entengan kita coba melihat sisi lain

He..he… positif saja ya… kita tanggapi… mungkin maksudnya agar mereka menjadi Indonesia sejati…. punya rasa nasionalisme yang kuat, karena mereka sejatinya lahir, hidup dan besar serta mencari nafkah di Indonesia. Dan realitanya banyak dari warga keturunan yang belum pernah ke negara asalnya dan tidak paham akan adat, ritual nenek moyangnya secara lengkap.

Saat Gus Dur menjadi presiden…. beliau menghapus segala diskriminasi yang ada, termasuk didalamnya di bolehkan bagi warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk merayakan Imlek secara terbuka. Angin segar untuk mereka, karena ekspresi dan keberadaan mereka lebih mempunyai ruang gerak dan keleluasaan.

Kita tentunya menyadari bahwa hampir di semua kota besar, di Indonesia maupun di luar negeri perkampungan mereka demikian dikenal, baik dari disain arsitekturnya maupun lokasi khusus dengan penandaan yang lain seperti gapura, klenteng, dsb. Demikian pula di Jogja, kampung Ketandan sangat kental dengan berbagai ciri khasnya, sekalipun tidak disebut sebagai kampung cina, tetapi sebagian besar bangunan dan interior beberapa rumah masih terlihat sangat spesifik.

Bahkan perayaan Imlek tahun ini di Jogja demikian meriah, menjadi tontonan dan hiburan masyarakat dan dapat memecahkan rekor MURI untuk Naga Liong terpanjang, kira kira 150 meter.

Ada sebuah cerita lucu dari saya, seorang yang tak merayakan Imlek. Walau berpuluh-tahun tinggal di Pecinan Malioboro Jogja, bertetangga dengan banyak komunitas keturunan Tionghoa, ha kok tidak sadar kalau hari hari itu sudah menjelang Imlek. Waah…kebangeten betul saya ini.

Pagi itu Sabtu 13 Februari… bergegas saya kepasar untuk mencari beberapa hal kesukaan suami dan anak saya Anien yang kebetulan di Jogja. Sampai di pasar Pathuk (pasar dimana berada di tengah kota dan banyak dikunjungi oleh warga keturunan Tionghoa), seperti biasanya.. untuk menyingkat waktu saya berbagi dengan mbak yang menemani saya… saya beli bahan bahan lauk, dia membeli sayuran.

Kesana-kemari didalam pasar… saya bergumam didalam hati… “kenapa ramai benar ya… padahal hari tidak lagi pagi. Ooo.. mungkin mereka selesai mengantar sekolah anak-anaknya “. Smpailah saya pada penjual jajan pasar terlengkap… setelah memilih ini itu… saya minta mereka menghitung…

Saya kaget “Lho….apa tidak keliru… saya cuma membeli 4 macam…kok mahal sekali”. Betul bu…ini saya ulang lagi menghitungnya…”. Saya penasaran…” Coba kenapa begitu mahalnya…pelan-pelan dan satu satu..menghitungnya”. Nah…naluri Ibu-Ibu nya muncul deh… itungan dan agak pelit…

Si Ibu pemilik kios menjelaskan… “Ibu..kebetulan yang Ibu beli harganya Rp.3500, perbiji…”

“Lho…biasanya kan cuma seribu” jawab saya.

“iya… ini kue Ku dan kue mangkok pink dan merah… hari ini sangat mahal… karena semua membeli untuk Imlek “

“jadi…hanya untuk hari ini saja ? “

“Betul Bu…kan ini 1 hari menjelang Imlek, sama mahalnya seperti makanan tertentu ketika 1 hari menjelang Lebaran.”

“Ooo….begitu…ya sudah….tidak apa-apa”, kemudian saya membayar jumlah yang mereka hitung. Sambil berjalan pergi saya terheran heran dan berpikir..kenapa bisa lupa ya kalau besok Imlek, dan kenapa kue itu menjadi mahal sekali.

Sampai dirumah… sambil membaca koran Sabtu 13 Februari, saya mejadi paham semuanya… kue Ku dan kue mangkok, serta kue-kue dan makanan lain yang berwarna merah menjadi bagian yang penting dalam upacara Imlek. Merah lambang keberanian dan mampu mengusir semua kejahatan, sesuai dengan mitos dan ritual yang di rilis oleh berbagai media. Oleh karenanya memakai warna merah saat acara Imlek adalah dianjurkan.

Selama ini pengalaman saya hanya sebatas… Liong sam si, barongsai, wayang potehi dan kue keranjang. Ternyata demikian banyaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan Imlek. Dari rilis media, Acara acara di TV dan dekorasi pertokoan dan Mall serta makanan khas, kita dibawa ke suasana cerah merah dan kuning emas yang menandai Imlek.

Mudah mudahan keleluasaan perayaan ini tidak akan membuat teman teman menjadi eksklusif dan berbeda dengan kami, tetapi justru membumi dan mencintai keberagaman Indonesia. Teman-teman adalah orang Indonesia, yang saya percaya dengan berbagai cara dan pilihan hidup pasti sudah berkarya untuk membangun Indonesia dan, merasa memiliki Indonesia.

Lihatlah…dilingkungan warga keturunan Tionghoa… ada pak mentri, ada pengusaha ada dokter, ada kepala daerah, ada anggota DPR, ada PNS, ada artis yang semuanya berkarya dan bangga menjadi orang Indonesia. Karena riilnya Indonesia telah banyak memberi mereka, materi, alam. kebahagiaan, sahabat, dll, tanpa membedakan siapapun dia, maka kita harus melakukan sesuatu untuk Indonesia.

Selamat kepada para sahabat saya yang merayakan Imlek, kami ikut merasakan kebahagiaan dan kemeriahan yang di adakan dalam rangka perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Dari kepala daerah sampai Presiden, hadir dan memberikan perhatian pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh di berbagai daerah. Semoga hal ini akan lebih mempererat kesatuan bangsa Indonesia tanpa membedakan suku, etnis dan asal daerah, semua punya tanggung jawab untuk membangun Indonesia…

Bersyukur….

Karena berbagai kesibukan, baru sempat saya selesaikan tulisan tentang wisuda anak saya …. waah ternyata benar…menulis pada blog tak semudah dan secepat  mengerjakan hal lain. Yang jelas, butuh waktu cukup dan kondisi pikiran tenang…

Salut dan apresiasi saya untuk teman teman yang masih konsisten, rajin, tanpa jeda… dengan tulisan-tulisan berkualitas…. Uda Vizon, mbak Imelda, mbak Tuti, pak En ha, mbak Eni, mas Andy, mbak Ayik, mbak Ernut, Erlinda, pakde cholik, dll

Undangan resmi dari Michigan State University?   Ya… ternyata benar…. Undangan Wisuda untuk kami orang tua dari Arief  Nur Wibawanto.

Alhamdulillah…. kami sangat bersyukur, dan segera merencanakan untuk keberangkatan  ke Amerika…

Seperti beberapa kali sebelumnya. Kami sudah membayangkan perjalanan yang demikian lama, kira kira 20 jam harus kami tempuh. Mulai dari Bandara  Sukarno Hatta saya menyampaikan kepada suami…. agar tidak bosan di pesawat, yang demikian lama….” Bayangkan saja  cucu Zee menjemput kita di J F.Kennedy Airport, berlari-lari kegirangan karena Eyangnya datang “.

Setelah sampai di New York, kami harus menginap 1 malam untuk melanjutkan perjalanan ke East Lansing, kota dimana Arief kuliah.  Bersama Pipiet sekeluarga kami menuju Detroit dengan  maskapai penerbangan domestik Amerika.

Dari Detroit kami menyewa mobil untuk menuju ke kota Lansing. Dengan lugu nya Zee mengatakan “Is it  our new car…Ayah ? ” I Like it….because  this car is more better, more big than our car”. Kami semua tertawa dengan celotehnya.

Tiba di Lansing… Michigan, saya cukup kaget dengan suhu udara yang minus 5 derajat celcius… dimana-mana salju. Dengan santai Arief mengatakan… “ini biasa ma…tidak terlalu dingin…biasanya sampai minus 12 C”.

Waduuuh padahal saya paling tersiksa dengan udara dingin. oleh karenanya segala perlengkapan yang saya bawa maupun yang disiapkan Pipiet segera kita siapkan untuk menahan dingin ketika kita keluar  hotel.

Saat keluar hotel untuk makan malam…. walau jarak restoran cukup dekat, kami bergegas karena tak tahan dingin. Ternyata….orang yang terbiasa hidup di Amerika pun kedinginan, pada umumnya mereka menggunakan baju  tebal dan segala perlengkapannya… he..he… saya kira cuma kami yang kedinginan.

Hari wisuda yang ditunggu tunggu….

Seperti mimpi rasanya… melihat anak laki-laki saya… berada di tengah2 ratusan calon wisudawan Michigan State University. Kebetulan wisuda kali ini satu-satunya anak Indonesia yang lulus adalah anak saya…. sehingga untuk mencermati namanya  pada buku kelulusan demikian mudah.

Selesai acara wisuda kami berjalan jalan, ke beberapa kota antara lain Washington, Baltimore dan tentunya Philadelpia dimana Pipiet sekeluarga tinggal.

Dalam semua kesempatan, selama kami di Amerika, cucu Zee nampak sangat menikmati dan bahagia. Zee menyampaikan pada Bundanya yang dalam bahasa Indonesia, kira-kira demikian : “Bunda… mas (menyebut dirinya)  senang ada eyang papa dan eyang mama, karena banyak hal yang di bolehkan. Juga senang ada Oom Arief karena bisa bermain game  TV apa saja.”

Pada  satu hari sebelum kami pulang, kami sempat mengantar Zee pada perayaan tutup tahun di sekolahnya. Saat dia maju ke panggung untuk mempresentasikan suatu atraksi… bernyanyi bersama dan lainnya… nampak sekali kegembiraan wajahnya melihat Eyangnya, ayah bundanya dan Oomnya menunggui. Setiap saat berada di panggung… matanya mencari cari kami dan Zee tersenyum  bahagia ketika kami melambaikan tangan.

Saya terharu… teringat bertahun tahun yang lalu, ketika anak-anak masih kecil. Sepertinya baru beberapa lama saya antar jemput anak anak kesekolah dan les, juga menunggui Pipiet les tari, mengantar Arief lomba lukis, menjemput Arief latihan Tonti, mengantar Anien ke TPA, menjemput mereka pulang dari camping atau piknik sekolah, dll. Ternyata saat ini mereka sudah dewasa… bahkan kami sudah mempunyai cucu. Alangkah cepatnya waktu berlalu… dengan terus berdoa dan mengupayakan segala yang terbaik untuk anak anak. Semoga mereka mengenang kami  sebagai sahabat sebagai teman diskusi dan curhat… dengan nuansa kasih sayang yang selalu ada diantara kami. Orang tua mempunyai keterbatasan, banyak hal dari kami yang mungkin tidak perlu di tiru. Ingatlah dan kenanglah kami yang baik baik saja… dan insya Allah kami akan selalu memberi yang terbaik yang kami miliki untuk anak-anak.

Saat sebelum Arief kembali ke Micghigan, dia menyampaikan rencana selanjutnya akan meneruskan ke jenjang S2, sambil mengatakan : “Maaf ya mama… Arief belum menyukai bisnis, jadi belum bisa bantu mama, Arief ingin sekolah sesuai keinginan Arief, insya Allah Arief akan bertanggung jawab dengan pilihan ini”. Kami terharu mendengarnya…. “nggak apa-apa… mama dan papa tugasnya mendoakan, semoga Arief  sangat tahu akan pilihanmu dan bertanggung jawab pada pilihan itu”. Dalam hati saya berpikir…..” ternyata  sangat benar bahwa anak adalah titipan Allah, dimana kewajiban kita adalah memberikan yang terbaik, tetapi tak bisa membuatnya sesuai keinginan kita”. Alahmdulillah kami bukan orang tua yang pemaksa, mudah-mudahan anak-anak memahaminya.

Si bungsu Anien belum nampak kesukaannya pada bisnis, tetapi mempunyai keseriusan belajar marketing di Monash University. Mudah mudahan dia akan menemukan hal hal yang cocok dengan bakatnya, sehingga apapun yang dilakukannya menjadi suatu kesenangan yang menghasilkan prestasi dan karya.

Berbeda dengan putri sulung Pipiet…. jiwa bisnisnya muncul sejak kecil, segala sesuatu bisa dibuat menjadi bernilai bisnis. Membuat gelang gelang dan dijual pada teman temannya ketika SD, membeli barang barang kecil souvenir ketika kami ajak  pergi keluarkota maupun luar negeri yang digunakan sebagai sumber inspirasi ketika dia membuka usaha Kado Kita.

Saat inipun, sekolah, sambil momong anak  masih saja  sempat berjualan melalui internet. Tas-tas berkualitas, sepatu, dll…dengan hasil yang bisa untuk menambah biaya kuliah dan sekolah anaknya.

Mama bangga pada kalian semua, semoga apa yang kalian inginkan, cita citakan akan mendapat kemudahan dan ridha Allah, serta bermanfaat untuk kehidupan kalian. Mama dan papa terus berdoa untuk kalian semua.

Older Posts »