Kita semua tentu masih ingat.. pada tahun 1990-an, lagu ini sering kita dengar melalui Radio dan Televisi serta pada acara acara anak anak. Syairnya kira kira demikian :
Aku anak sehat, tubuhku kuat
Karena ibuku rajin dan cermat
Semasa aku bayi selalu diberi ASI
Makanan bergizi dan imunisasi
Berat badanku ditimbang selalu
Posyandu menunggu setiap waktu
Bila aku diare , ibu selalu waspada
pertolongan oralit selalu siap sedia
Lagu ini mengingatkan program POSYANDU yang populer pada jaman Orde baru, jaman Ibu negara kita adalah Ibu Tien Soeharto. Posyandu dilaksanakan di setiap kampung diseluruh pelosok Indonesia, dengan maksud agar masyarakat dibantu oleh petugas kesehatan dari Puskesmas setempat mampu melakukan deteksi terhadap tumbuh kembang balita yang ada di wilayahnya.
Ketika belum menjadi Ketua PKK kota Yogyakarta, saya tidak punya pengetahuan apa apa tentang Posyandu, karena anak-anak saya ketika balita ditimbang dan diperiksa rutin oleh dokter anak, dengan pedoman KMS (Kartu Menuju Sehat). Bahkan kadang kadang saya tidak percaya, apakah Posyandu punya manfaat, karena saat ini fasilitas kesehatan sudah demikian baik.
Setelah menjadi ketua PKK…melihat realita ….
Dari hasil monitoring ke seluruh posyandu di kota Yogyakarta, didapat data masih balita dengan status gizi bermasalah, yaitu buruk, kurang dan lebih, serta gizi baik. Jumlah balita di kota Yogyakarta pada tahun 2009 tercatat 23.400 balita dan yang menimbang di posyandu adalah 19.027 anak balita. Sisanya dianggap mandiri memantau kesehatannya melalui dokter atau rumah sakit swasta.
Dari jumlah tersebut ditemukan 187 anak gizi buruk (0,98% ), 1.829 anak gizi kurang ( 9,6% ), 16.385 anak gizi baik (86,11%) dan 626 anak gizi lebih (3,29 % ). Padahal di setiap RW di seluruh kota Yogyakarta dipastikan dalam setiap bulan dilaksanakan Posyandu, dan kami dari tingkat kota memonitor pelaksanaanya. Kami pun pernah mendapat juara nasional Pelaksana Posyandu terbaik karena inovasi berupa Buku Pintar Posyandu sebagai sarana mudah mencatat data hasil pelaksanaan Posyandu.
Tidak sabar rasanya, setiap pertemuan dengan petugas puskesmas, instansi yang terkait juga kader dan tokoh masyarakat saya selalu membahas mengapa masih demikian kondisinya, walaupun bila dibandingkan angka nasional yang kira kira 10 %, Yogyakarta masih sangat baik. Tetapi saya berpikir dari sisi yang lain, yaitu bagaimana agar orang tua balita dengan status gizi bermasalah tersebut memahami permasalahan ini dan mau mengupayakan anaknya menjadi status gizi baik dan tumbuh kembang yang baik pula.
Karena sesungguhnya tumbuh kembang anak akan optimal apabila pada masa emas nya (yaitu 0 sd 60 bulan), mendapat asupan gizi yang cukup, menerima pembelajaran dan pendidikan anak usia dini secara intensif. Orang tua, bapak dan ibu nya harus berperan besar, tidak boleh menyerahkannya kepada pembantu atau orang lain.
Ketika pola asuh dan perilaku hidup bersih dan sehat dari orang tua dan lingkungan balita tersebut tidak diperhatikan, akan sangat mungkin status gizi kurang menjadi buruk. Dan ternyata, anak dengan masalah gizi buruk mempunyai persoalan yang sangat kompleks yaitu masalah pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan yang tidak sehat, dan kehamilan Ibu yang tidak sehat serta penyakit bawaan yang lain.
Oleh karenanya segera saya mengumpulkan data by name dan alamat serta pekerjaan orang tua dari balita dengan masalah gizi buruk. Nah, ternyata tidak semuanya dari golongan tak terdidik dan golongan ekonomi lemah. Yang mampu dan terdidik pun ada yang mengalaminya, ini terjadi karena ketidak pahaman lingkungan keluarga dari balita tersebut.
Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, dan dibantu oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) serta di fasilitasi oleh pemerintah kota yogyakarta melalui Dinas Kesehatan akhirnya saya memberanikan diri untuk merintis pendirian RUMAH PEMULIHAN GIZI (RPG), menempati eks Sekolah Dasar Gading yang tidak terpakai karena sekolah tersebut telah melakukan re grouping dengan sekolah lain. Alhamdulillah, bapak Walikota dan semua instansi yang terkait sangat mendukung.
Mulai disain awal, layout ruangan, warna cat dan kebutuhan ruangan serta mebelair dan keperluan lainnya, saya kawal sesuai kepentingan dan nuansa anak balita. Warna cat dinding yang segar, sirkulasi udara yang maksimal, warna interior pendukung yang menarik serta tamanisasi dan play ground yang lengkap sangat memberikan suasana ramah anak dan tidak berkesan klinik apalagi rumah sakit.
Rumah pemulihan Gizi adalah sebuah tempat perawatan secara komprehensif untuk anak balita dengan gizi bermasalah, tempat belajar bagi orang tua balita tentang bagaimana memberikan asupan gizi balita, dan tempat konsultasi untuk masyarakat umum tentang gizi balita. Di tempat ini di lakukan perawatan anak anak dengan kondisi gizi buruk dengan tanda berat badan yang sangat kurang dibandingkan dengan umur dan tinggi badannya. Di tempat ini pula, orang tua harus belajar untuk memberikan formula dan asupan gizi yang benar dan baik untuk anak nya. Di RPG juga terintegrasi degan pendidikan anak usia dini, sehingga memungkinkan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dari sisi yang emosional dan intelegensi nya.
Setelah semuanya siap, kami dibantu tenaga kesehatan dan dokter spesialis anak (dr Endy Paryanto) serta para dokter muda yang lain, serta Pak Agus dari ahli gizi segera memulai operasional Rumah Pemulihan Gizi. Hal yang pertama dilakukan adalah melakukan skrining atau asesmen awal terhadap anak anak dengan gizi bermasalah. Dari jumlah yang ada 11 anak masuk kategori prioritas utama untuk dirawat, 8 anak perawatan intensif, 3 anak rawat jalan.
Melihat hari pertama perawatan, nampak kegelisahan anak dan orang tua, karena harus berada di lingkungan baru, suasana baru, belajar banyak hal baru dan harus merawat anaknya dengan sungguh sungguh dalam hal asupan gizinya. Ekspresi mereka ketika menerima penjelasan dokter dan petugas kesehatan bermacam-macam. Ada yang nampak antusias ingin tahu, ada yang tak peduli dan ada yang biasa saja ada juga yang nampak canggung.
Hari hari pertama, sorot mata anak anak masih nampak gelisah, minta di gendong orang tuanya, bahkan beberapa nangis kalau ada yang mendekat. Demikian pula kami, dalam hal pelayanan kepada mereka terus ada evaluasi dan perbaikan. Berat badan di timbang setiap pagi saat mereka hadir, orang tua melaporkan asupan gizi yang diberikan dirumah. Walaupun mereka tak ditarik biaya sedikit pun….. (malah diberi uang transport je…) kami sepakat untuk melayani dengan baik. Pengelola, tenaga kesehatan, dokter, ahli gizi, pendidik PAUD, tenaga administrasi dan cleaning service bekerja sama memberikan layanan yang terbaik.
Tibalah saatnya 12 maret 2010, hari yang dijanjikan… Rumah Pemulihan Gizi di resmikan oleh Ibu Mentri kesehatan Ibu dr.Endang Rahayu Sedyaningsih DR MPH PH.
Waaah… pasti teman-teman blogger akan heran, apa yang istimewa dari Rumah Pemulihan Gizi gagasan Ibu Dyah Suminar Ini….? Ternyata Ibu Men Kes sangat tertarik dengan RPG, karena pendirian RPG adalah upaya konkrit, sesuatu yang riil dibutuhkan, sebagai tempat perawatan dan edukasi untuk anak dan orang tua balita agar penyelesaian masalah gizi bisa tuntas dan mereka bisa meneruskan dirumah karena sudah mendapatkan banyak hal dari Rumah Pemulihan Gizi. Dan yang berbeda dengan daerah lain bahwa di Yogyakarta, Rumah Pemulihan Gizi terintegrasi dengan pendidikan usia dini sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih optimal.
Dalam sambutannya beliau” memberikan apresiasi kepada upaya ini, karena masalah gizi balita sangat penting. Gizi baik pada balita akan menentukan kualitas bangsa di masa depan, akan menjadikan generasi yang akan datang lebih sehat, pandai, mandiri dan mampu bersaing. Kalau Yogyakarta yang tergolong baik dibandingkan dengan daerah lain maupun standard nasional, mau dan mampu melakukan upaya preventif, seharusnya bisa dicontoh oleh daerah lain”… demikian antara lain sambutan beliau.
Beberapa waktu setelah peresmian….
Saya sampaikan kepada seluruh pengurus, bahwa waktu saya mengabdi tinggal 18 bulan (karena jabatan kami berakhir 20 Desember 2011 ). Peresmian adalah sebuah awal, sebuah penandaan bahwa kegiatan mulia telah dimulai. Yang penting adalah sesudahnya, yaitu cita-cita besar, bahwa bagaimana Rumah Pemulihan Gizi mampu melakukan fungsinya untuk memberi solusi dan penanganan kepada balita dengan gizi bermasalah, mampu memberikan edukasi bagi orang tua balita dan masyarakat umum tentang masalah gizi. Dan juga mampu melakukan upaya preventif melalui pendidikan gizi, penyuluhan, sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat, karena kedepan tantangan jaman akan lebih dinamis .
Suatu hari….setelah mereka mendapat perawatan hari ke 14…
“Assalamualaikum… halo cucu-cucu….apa kabar hari ini? semuanya nampak cantik dan cakep-cakep,,,, coba siapa yang pinter… nyanyi untuk eyang” demikian sapaan saya.
Satu persatu menunjukkan kebolehannya… ada yang menyanyikan lagu…. ada yang menunjukkan gambarnya, ada yang menunjukkan bahwa dia bisa bermain ayunan, main di jembatan titian. Mata mereka berbinar, nampak berseri wajah-wajah mungil itu. ” Aku bisa nyanyi Eyang… aku mau nggambar eyang….” sambil mengacungkan 2 ibu jari mereka.
Dan yang sungguh menggembirakan, orang tua mereka sudah belajar mengolah makanan bergizi dan formula khusus, membaca buku menu balita, membaca buku di perpustakaan dan mau mengkuti penyuluhan yang kami berikan sambil menunggui anak-anaknya.
Saat hari ke 24 mereka dirawat…dokter menyatakan 7 anak dari 8 anak telah lulus dan cukup berat badannya, sehingga bisa meneruskan perawatannya dirumah dengan dipantau oleh petugas gizi Puskesmas setempat dan kader Posyandu. Alhamdulillah…saya terharu mendengarnya…. mereka sangat berterimakasih pada kami, dan menyatakan sanggup melakukan yang terbaik untuk anaknya. Minggu ini kami telah melakukan asesmen berikutnya, yang dinyatakan prioritas akan segera dirawat dengan tatalaksana yang telah ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing balita.
Nah… kalau sudah semua yang bermasalah sudah sehat… lalu bagaimana ??…. ini pertanyaan beberapa rekan media..
Dari hasil pengamatan kami, penyebab gizi bermasalah dan menjadi buruk adalah sangat kompleks. Mulai dari kehamilan yang tidak sehat, asupan makanan yang sangat kurang, tidak menerima ASI, lingkungan dan faktor sosial ekonomi tidak mendukung serta ketidak pahaman orang tua akan pentingnya gizi. Oleh karenanya, penyelesaian masalah harus tuntas, fokus dan terprogram dengan baik dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan asesmen awal dari masing masing anak. Sangat di mungkinkan gizi kurang akan menjadi gizi buruk dan gizi baik akan menjadi kategori gizi kurang dan seterusnya, apabila upaya preventif tidak dilakukan.
Jadi… Rumah pemulihan Gizi akan terus melakukan kegiatan…. selama masih ada balita dengan gizi bermasalah. Edukasi tentang gizi dan pola asuh juga tentang pendidikan anak akan menjadi agenda rutin kegiatan kami. Kami juga membuka kerjasama dengan siapapun yang saling memberi manfaat untuk solusi permasalahan gizi balita. Lokasi yang strategis, fisik gedung dan suasana yang ramah anak, yang berlokasi di jln, Mayjend Sutoyo 32 Telpon 0274 -411120 akan memberikan pelayanan sebaik baiknya kepada seluruh masyarakat kota Yogyakarta berupa konsultasi, penyuluhan, informasi dan segala hal tentang gizi balita.
Gizi buruk,,gizi bermasalah pada balita masih menjadi permasalahan besar pada banyak daerah di Indonesia. Sangat prihatin, ketika Hari Gizi dan permasalahan Gizi buruk hanya diselesaikan dengan demonstrasi turun kejalan, atau sekedar memberi makanan tambahan sesaat, tanpa melakukan upaya yang konkrit dan berkesinambungan. Posyandu menunggu setiap bulan, puskesmas mudah di akses, dokter juga cukup banyak…. namun persoalan gizi adalah pola asuh dan menyangkut perilaku hidup sehat sehingga memerlukan upaya yang komprehensif.
Rupanya… lagu Aku Anak Sehat..tubuhku kuat...dst akan terwujud kalau semua pihak menyadari bahwa pemenuhan hak anak, termasuk didalamnya memberi yang terbaik dalam bidang kesehatan dan pendidikan adalah hal yang mutlak harus dilakukan.
Melalui berbagai program dan upaya kota Yogyakarta di tahun 2010 menyatakan kesungguhannya sebagai Kota Sehat dan Nyaman Huni dengan Pengelolaan fasilitas Publik yang memadai. Sehat, aman dan nyaman bagi seluruh warganya melalui berbagai upaya peningkatan kualitas pelayanan. Rumah pemulihan Gizi merupakan salah satu upaya menuju sehat bagi balita.
Terimakasih kami kepada teman teman Instansi (Dinas Kesehatan), dukungan Bapak Walikota, para dokter yang dipimpin dr Endi Paryanto, Ibu-ibu PKK, adik-adik pendidik, pengasuh, bagian administrasi, dapur, cleaning service dan keamanan. Saya selaku penggagas Program ini berharap… dimasa yang akan datang… Rumah pemulihan Gizi akan lebih punya manfaat untuk masyarakat, lebih berkembang sesuai tuntutan kebutuhan…. Amieen….
Tags: balita sehat