Feed on
Posts
Comments

Nya-LEG….

Sekarang sudah bulan Januari… Pil-LEG..pilihan Legislatif kira-kira tinggal 100 hari lagi…. Apa kabar tentang pemahaman politik untuk perempuan?

Sejak adanya Undang-undang pemilu RI No. 10/2008 maka dengan berbagai cara seluruh partai politik peserta pemilu, berlomba-lomba untuk memenuhi persyaratan dengan memasukkan pengurus perempuan dan calon legislatif perempuan. Lepas dari niatan partai yang hanya sekedar lolos persyaratan atau memang sudah dipersiapkan dan disadari bahwa kepesertaan perempuan memang diperlukan, tetapi Pemilu 2009, punya warna lain dari pemilu sebelumnya. Cukup banyak bendera partai, spanduk, baliho bergambar caleg perempuan, atau setidaknya ada nama perempuan diantara 3 caleg lakii-laki. Lumayan…..bisa tampil, perkara terpilih atau tidak itu urusan berikutnya.

Pada diskusi Ibu-Ibu atau para perempuan dalam arisan, demo kecantikan, masak-memasak, atau ketemuan di resto dan coffee shop…., terjadilah diskusi menyikapi tentang politik… ” POLITIK itu keras..politik itu kotor, politik itu menghabiskan uang, politik itu biaya tinggi…. Waahhh…menyeramkan, kita tidak usah masuk kesana, biar saja itu urusan laki-laki, kita mengurusi anak, suami dan rumah tangga saja ya…nggak usah pusing pusing..pokoknya uang belanja cukup banyak… atau kita mikir cari uang sendiri saja, bisa untuk shopping dan bersenang-senang “….Waduuh sediihnya, saya sangat terganggu dengan pembicaraan kelompok tadi. Mereka mampu secara pendidikan, materi, kesempatan, tapi tak ada pemahaman.” Pantas saja, seruan yang selalu disampaikan adalah   tingkat golput tertinggi ada pada perempuan, dan selaku pimpinan organisasi perempuan wajib memberikan pemahaman. …..Waaah….tugas lagi…tugas lagi ….

Ada lagi ceritanya….pada saat batas akhir pendaftaran parpol peserta pemilu, sibuklah para pengurus parpol untuk mencari caleg-caleg perempuan agar partainya punya caleg perempuan, sehingga menambah nilai dari parpol tersebut. “Tidak usah pakai biaya apa-apa, asal bersedia dan mengumpulkan syarat-syarat, malam ini ditunggu, atau pengurus partai yang akan sowan/datang…”, demikian kira-kira bujuk rayunya. Hmmm…. moga-moga perempuan tidak untuk genep-genep (mencukupkan jumlah saja) dan tidak basa basi ya…. Tapi memang mereka (partai) butuh perempuan...yang sungguh-sungguh mengerti akan kebutuhan masyarakat dan perempuan.

Reaksi yang terjadi bermacam-macam. Ada yang bergegas mendaftar karena sebenarnya sudah siap tapi terkendala biaya, ada yang adem ayem saja….karena tidak paham, ada yang sinis karena menganggap jatah perempuan dalam politik hanya untuk genep-genep dan sekedar basa basi.

Caleg perempuan, dengan kategori Sengaja, diniatkan, disponsori, kagetan maupun diminta, mulai berhitung-hitung dan menimbang. Dalam pikirannya tentu saja muncul kalkulasi tenaga, waktu, pikiran, …juga biaya. Tidak ada sarapan pagi yang gratis, semua ada hitungannya. Berlombalah mereka untuk mendudukkan caleg perempuan pada nomor urut tertentu, dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. Berhitunglah mereka akan kemungkinan-kemungkinan keberhasilan, biaya sosialisasi maupun kampanye, serta biaya internal partai yang tidak sedikit.

Memasang spanduk, baliho, umbul-umbul, leaflet serta poster caleg seolah merupakan hal wajib yang harus dipasang oleh para caleg. Sehingga berlomba-lombalah mereka memasang atribut-atribut tesebut di sepanjang jalan besar maupun kampung dengan harapan akan semakin banyak yang mengenal Caleg.

Secara pribadi saya amati atribut tersebut…ada yang elegan, nampak cerdas, sopan, jelas, ….ada yang Waton ketok AKEH, ada juga yang tidak pakai konsep…dimanapun dipasang, sampai masuk gang kecil-kecil…. Walaah ruwet sekali, malah tidak menarik. Apalagi pesan-pesan atau janji yang disampaikan oleh masing-masing sering tidak realistis. Saya sering berpikir, orang lain, khususnya para perempuan….membaca, mengamati tidak ya…??? Ada seorang prempuan sepuh …lanjut usia bertanya lugu kepada saya… “Itu siapa to bu…?? Apa maksudnya…?? Kok seperti iklan-iklan rokok..atau apa ya…?” (maksudnya iklan rokok LA ..dengan gambar burung pakai rok..).

Tiba-tiba Mahkamah Konstitusi merubah keputusan….ada yudicial review....bahwa penentuan caleg jadi, caleg terpilih tidak berdasar nomor urut, tapi berdasar suara terbanyak. Weeehhhh…lha ..tiwas kemarin pakai perjuangan, pakai nggusur yang lain je untuk menjadi nomor cantik….lha kok dirubah... Tetapi, pada sisi lain keputusan ini juga sangat fair…untuk para caleg yang memang dekat dengan masyarakat, sering berkomunikasi dan memahami kebutuhan masyarakat akan sangat terbantu dengan keputusan suara terbanyak.

Sosialisasi undang-undang pemilu dilaksanakan dimana-mana….termasuk dilakukan pula pada  organisasi yang saya pimpin yaitu PKK, dengan menghadirkan KPU setempat. Menyelipkan ajakan untuk berpartisipasi dalam pemilu nanti (agar tidak makin banyak golput) menjadi kewajiban para tokoh perempuan, pimpinan organisasi di semua lini mulai dari tingkat pusat, propinsi kota, kabupaten maupun wilayah kecamatan dan kelurahan.

Sebenarnya perempuan telah melakukan kegiatan politik, hanya tidak disadari bahwa mereka telah melakukannya. Langkah politik formal harus dimulai dari langkah politik informal, dimana pada umumnya di kendalikan oleh perempuan. Politik tidak lepas dari kehidupan formal dan informal para pelakunya, karena isu-isu dan kebijakan yang diambil dalam dunia politik formal berimplikasi langsung maupun tak langsung pada seluruh kehidupan informal manusia. Sehingga ketika para Caleg dalam kehidupan politik informal sudah sangat terbiasa, melakukan banyak hal dalam masyarakat, akan sangat memudahkan memasuki politik formal. Oh ya…..??? Walaaah…lha ketemu tetangganya saja tidak pernah je…. kegiatan sosial juga tidak dilakukan, bagaimana ini….?? Ayoooo kejar tayang…kejar waktu… Mumpung masih 100 hari …he..he… ;)

Untuk para Caleg perempuan, saya memberi motivasi dan apresiasi setinggi-tingginya. Yakinlah bahwa perempuan telah belajar berpolitik dalam kesehariannya…mengatur urusan rumah tangga, menambah penghasilan keluarga, berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan melalui berbagai organisasi. Sehingga perempuan tahu akan segala sesuatu yang dibutuhkan  oleh perempuan, kebutuhan  masyarakat (pendidikan, kesehatan, balita, anak-anak, remaja, ibu-ibu dan para lanjut usia), memahami isu yang sedang terjadi, masalah yang sedang berkembang, sehingga diharapkan mampu mengemukakan, mengusulkan, membawa aspirasi dan mencari solusi ketika menjadi anggota legislati nantinya….. Jangan lupa lho ya… Kalau sudah jadi anggota legislatif nanti, jangan-jangan malah lupa dengan kebutuhan perempuan.

Mengingat dinamika dan heterogennya masyarakat kita, dan secara prosentasi lebih banyak pemilih perempuan maka hal yang paling strategis untuk cepat dikenal adalah berada di tengah-tengah mereka. Lakukan dan jelaskan sesuatu yang menjadi mimpi bersama dan cita-cita bersama. Baliho, spanduk tidak satu-satunya yang efektif. Pemilih telah cerdas, akan memilih siapa yang mengetahui kepentingan masyarakat, mau berjuang, dan berusaha melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama, tanpa melihat golongan atau warna atribut.

Mari kita sukseskan pemilu 2009, partisipasi kita akan menentukan nasib bangsa, kita hanya berbeda dibilik suara. Setelah itu bergabunglah menjadi saudara, sahabat, yang mempunyai cita-cita yang sama menuju berkehidupan yang lebih baik.

Demikian beberapa hal menarik yang saya peroleh dari beberapa tokoh masyarakat, pengamat, realita  yang saya alami dan saya kumpulkan. Semoga bermanfaat…

Salam, DS

28 Responses to “Nya-LEG….”

Pages: [3] 2 1 » Show All

  1. 28
    BLH Says:

    Sedang kami chek hari ini siapa yang menebang karena bukan aparat BLH yang melakukan , mohon waktu kami akan laporkan lagi siapa yang menebang dan apa maksudnya setelah cheking hari ini .

    Njih…nuwun..monggo ditindak lanjuti pak BLH…pak Benni…

  2. 27
    ben Says:

    Perlu inovasi baru dalam berkampanye menurut saya, seperti dalam perdagangan pernah berhasil ide baru seperti “serba lima ribu”. Mungkin para caleg inipun bisa meniru trik2 seperti ini dengan “serba 20ribu” atau “serba 50ribu” untuk memperoleh suara. Pasti “laris manis”, karena masyarakat suka milih yang serba-serbi ini, gampang, praktis, dan bermanfaat he..he..he.

    Ha..ha…ide bagus tuh…..tapi…..memang perjuangan berat lho…Bunda memahamkan kemasyarakat…khususnya perempuan, sudah usia lanjut….mereka sangat sulit mengerti…sangat tidak memahami…Partai kok akeh banget…katanya..

  3. 26
    fajarseraya Says:

    salam kenal yaa….salam kenal ya…mampir ke blogku

  4. 25
    Ikkyu_san Says:

    sayangnya saya di sini ngga bisa nyaleg bun… orang asing meskipun sudah PR (permanent residen) tidak boleh milih juga. Kecuali ganti kewarganegaraan…. NAH itu yang saya belum mau. Aku masih cinta Indonesia. Dan siapa tahu aku akan bisa ke Indonesia dan nyaleg di Indonesia (ngga ada perwakilan luar negeri toh bun) hehehe

    Aku dukung bunda aja deh. Juga mbak Ayik 5 tahun lagi. Paling tidak sudah tahu pemikirannya lewat blog kan :)

    salam saya bun
    EM

    mbak Imelda…Bunda sampai kangen,lama tidak menyapa anak2 tercinta,juga teman2..
    Btw…tentang Nyaleg…kita dukung mbak Ayik saja …kalau Bunda mau momong cucu saja…he.he..

  5. 24
    sapimoto Says:

    Dan dikantor pajak terlihat para calon itu berbondong-bondong untuk mendaftarkan NPWP dan yang sudah memiliki akan kebingungan untuk membuat laporan tahunan tahun-tahun sebelumnya yang sama sekali tidak pernah mereka isi, walaupun telah banyak teguran yang datang….
    Saya setuju sekali dengan ungkapan Ibu yang mengatakan,”POLITIK itu keras..politik itu kotor, politik itu menghabiskan uang, politik itu biaya tinggi…”, dan saya mau menambahkan bahwa pemain politik itu culas…

    he,,he,,,betul betul terjadi ya…nah, sebagai calon wakil rakyat harusnya lebih disiplin,bisa dicontoh….lha kok malah ngono…..waduuuh…

  6. 23
    wawan Says:

    Saya selaku warga kota Yogyakarta yang sejak lahir hidup dan tinggal dikota kita tercinta ini ingin menyampaikan sedikit uneg2 tentang program yang sedang dijalankan oleh pemkot Jogja diwilayah saya. Kemarin sore (Minggu) saya agak sedikit kaget, karena pohon2 perindang diwilayah saya tinggal (Langenarjan Kidul, depan beteng Keraton) mulai ditebang begitu saja oleh aparat pemerintah kota. Mungkin kalau penebangannya setengah batang atau tidak sampai mematikan pohon sebenarnya tidak menjadi masalah, tetapi pohon2 melinjo yang sudah ditanam warga selama lebih dari 20 tahun begitu saja ditebang sampai habis… saat ini baru beberapa batang pohon saja yang ditebang, tapi bukan tidak mungkin 2-3 hari lagi semua pohon yang sudah susah payah ditanam & dipelihara warga agar lingkungan menjadi asri, segar, rindang menjadi hilang begitu saja. Saya yakin, pohon2 melinjo tersebut tidak akan merusak beteng Keraton, karena pohon melinjo salah satu pohon berakar tunggal (bukan serabut, seperti tanaman keras lain) sehingga tidak akan mengganggu dan merusak bangunan2 disekitarnya.

    Saya tidak bisa membayangkan, betapa panasnya wilayah kami setelah semua pohon itu hilang ditebang.. banyak teman2 saya yang memuji bahwa betapa nikmat tinggal di wilayah Langenarjan yang asri, segar & banyak tanaman sehingga udara juga menjadi bersih, mungkin pujian mereka setelah ini bakal hilag begitu saja. Bukankah selama ini program penghijauan selalu menjadi salah satu motto pemerintah untuk menghindari banjir dan semakin bertambah panasnya bumi kita (global warming)? Mungkin setelah semua pohon itu habis, kami tidak bisa lagi mendengarkan hiburan suara2 burung berkicau saling bersahutan setelah bangun tidur, udara pagi menjadi tidak segar akibat tidak adanya oksigen segar yang dihasilkan oleh pohon2 besar tersebut.

    Cukup sekian saja uneg2 dari warga kecil seperti saya, mungkin ibu Dyah selaku ibu Walikota bisa meneruskan uneg2 ini dan bisa bisa menjadi bahan pertimbangan kebijakan pemerintah agar kota Jogja tidak begitu saja menerapkan kebijakan tanpa ada sosialisasi & diskusi dengan warganya.

    Pages: [3] 2 1 » Show All

    Leave a Reply