Feed on
Posts
Comments

Saya sering merenung.. dan bertanya pada diri sendiri…

Sudahkah diri ini merasa syukur terhadap apa yang telah diberikan Allah kepada saya dan keluarga ?

Cukupkah hanya mengucap syukur dan doa setiap hari….., tanpa melakukan hal hal yang konkrit yang menunjukkan  bahwa saya  bersyukur terhadap apa yang telah diberikan Allah selama hampir 53 tahun.

Coba  saja, kita masing masing jujur… dalam keseharian, kita lebih banyak kita meminta dari pada memberi…

Kita tak mampu dan belum sepenuhnya  bersyukur….

Kita masih lebih rajin memohon dan meminta daripada memberi dan berbagi

kita masih berpikir untuk diri sendiri yang tiada henti dan lupa memikirkan orang lain

Kita tak mampu menyadari banyak hal yang telah kita miliki dan kita masih ingin yang lain lagi…

Padahal, kita sebenarnya telah serakah…  Coba lihat dan hitung…..

Berapa jumlah pakaian yang kita miliki……, yang batik, yang polos, yang  santai, yang formal

Berapa jumlah tas  dan sepatu  yang kita miliki… yang pendek, yang tinggi, yang hitam, putih dan warna-warni

Berapa jumlah asesoris, kerudung dan jilbab yang kita. koleksi….. warna warni  berusaha serasi setiap waktu

Berapa jumlah piring mangkuk, gelas… berbagai jenis…. yang ada di dapur kita…. demi mencari gengsi

Berapa jumlah alat make up dan perawatan wajah, badan, dan lainnya yang kita beli karena alasan tak percaya diri…

Berapa jumlah alat rumah tangga  yang kita cari  dan bertujuan koleksi yang tak fungsi….

Termenung saya memikirkannya…. dan  suatu pagi Allah swt memberi pelajaran bagi kita semua dengan  sekelumit kisah menyentuh… yang bisa membuat kita makin bersyukur..

Seperti biasanya… jam 05.00 pagi saya keluar rumah untuk jalan pagi…

Dari kejauhan… masih dalam remang remang menjelang pagi… seorang Ibu setengah baya mengayuh sepeda. Dia mengayuh melintasi rute jalan pagi saya, dengan menggunakan pakaian seadanya..

Saya sapa…. “Assalamualaikum bu…. mau kemana sepagi ini ?” dia berhenti… lalu menatap wajah saya…. dengan gembira, dan menjawab… “Oh…Ibu, saya mau cari barang rongsok Bu.. tiap 2 hari sekali saya lewat sini. Ini pekerjaan saya, nama  saya  Tinah bu…”

Kalau saya beri kertas, plastik, botol bekas, apa  ibu mau..?? Berbinar matanya tak percaya sambil menanyakan….” saya tak mampu membeli Bu… saya cuma tukang gresek (pemulung) “.

“Tidak usah dibeli… silahkan ambil… ayooo masuk halaman rumah saya… itu di bagian belakang… saya punya 3 dos sampah bersih terpilah… Kertas, plastik, botol2 dan kemasan lain “.

Setelah masuk halaman rumah dan  menuju dos dos pemilahan sampah…. Bu Tinah nampak heran… Dia berpikir… berapa orang yang tinggal disini, kok sampah nya demikian banyak?.

Saya jadi malu melihat ekspresi bu Tinah…. “Oalah…cuma 2 orang lansia saja kok akeh banget sampahnya”.. bekas susu kalsium, bekas botol vitamin C, bekas dos dan bungkus snack rapat,  bekas kemasan sabun dan sampoo, bekas krim ini, krim itu… bekas dos vitamin, nota-nota, kertas arsip dll. Kadang-kadang  kita tak sadar kehidupan modern ini semakin memperbanyak sampah dan merusak lingkungan.

“Alhamdulilllah…hari ini saya dapat rejeki,” katanya  “Biasanya sampai siang saya baru bisa dapat rongsokan. Ibu, Terimakasih sekali… saya bisa beli beras lebih dari 1 kg dan sedikit lauk.”

“Lho..suami Ibu Tinah  kerja apa  dan, putranya berapa ?”

“Suami saya sudah meninggal ketika anak perempuan saya yang cuma satu satunya… masih kecil. Alhamdulillah sekarang anak saya sudah lulus SMK, sudah bekerja, ikut juragan perak di Kotagede.”

Lagi lagi miris saya mendengar ceritanya… sekaligus bangga dengan kegigihan Ibu tersebut, berjuang sendirian, memutuskan tidak menikah  lagi dan membesarkan anaknya hingga bekerja.

“Sudah sejak Agustus 2009 ini anak saya bekerja dan tidak lagi minta uang saku. Saya sangat bersyukur dan bahagia.. lha wong Ibu nya ini lulus SD saja tidak.. Walaupun gajinya  belum sesuai Upah. Hmmm…upah, apa itu Bu?… dia sudah sangat senang, dia menyadari masih baru dan belajar.”

“Ooo…UMP… Upah Minimum Propinsi…Yaa…. nanti lama kelamaan, kalau kerjanya baik, dia pasti akan mendapat gaji yang wajar Bu.”

Inilah kekuatan perempuan….. mampu bertahan dalam keterbatasan. Mampu melakukan banyak hal untuk mempertahankan hidup nya dan anak anaknya. Mampu mandiri dalam kondisi tanpa suami.

Seandainya…. banyak diantara kita yang selalu berusaha, bekerja keras serta pantang meminta dan bersyukur menerima pemberian-Nya seperti  bu Tinah, maka pemerintah tidak sulit lagi untuk mengurusi orang miskin dan mengaku miskin  seperti yang ada saat ini. Tak lagi butuh BLT, tak lagi berebut RASKIN (beras jatah untuk keluarga miskin), tak lagi ribut dan ricuh mencari pekerjaan, tak lagi sulit berobat ketika sakit, tak lagi sulit sekolah karena pemerintah menjamin untuk yang tak mampu.

Indonesia… demikian ironis…..

Demikian mencoloknya orang kaya… seperti terlihat pada tayangan sinetron. Juga demikian serakahnya para petinggi seperti kasus SUAP akhir akhir ini, dan betapa anak anak muda bingung tanpa punya sosok teladan. Serta demikian dahsyatnya iklan komersiil dan ajakan hidup boros mendidik anak kita setiap hari, sehingga anak anak akan cenderung menjadi generasi lemah dan kurang mandiri.

Bersyukurlah saya….

Hidup di Jogja, yang masih ada tepa salira, ewuh pakewuh dan guyub rukun dalam bermasyarakat. Masyarakat Jogja yang relatif cerdas menyikapi berbagai hal… sehingga selalu ada keterbukaan dan dialog menuju kehidupan yang lebih baik tanpa ada kericuhan yang berarti.

Jogja telah memberi banyak hal untuk saya dan keluarga…. yaitu kebahagiaan, sahabat, serta materi sebagai sarana untuk beribadah. Tak pantas rasanya kalau tanpa melakukan sesuatu untuk lingkungan, untuk orang lain, untuk Jogja kita tercinta.

Saya harus malu dengan kemandirian bu Tinah… kita semua harus bersyukur dan membiasakan memberi agar tidak serakah. Sosok Bu Tinah demikian banyak di sekeliling kita…. semoga memberi inspirasi dan perubahan bagi kita semua.

Terimakasih ya Allah… telah menyayangi kami dengan memberi peringatan peringatan halus yang sangat bermakna.

28 Responses to ““Syukur atau serakah” kah.. kita ?…”

Pages: [3] 2 1 » Show All

  1. 28
    sofi domargo Says:

    sugeng Bu Dyah….membaca halam Ibu selalu bikin saya surprise dan senyum senyum sendiri… selalu ada saja yang bisa dibahas… seandainya ibu cetak buku pasti saya bakal membeli bukunya… :)
    sudah lama tidak bertemu.. semoga bisa bertemu di Jogja ya bu…
    sungkem kagem Bapak :)

    mbak Sofi,mas edo dan cucu2 sayang….maturnuwun,saya juga selalu kangen dengan anak anak yang pernah membantu saya…di manapun.. Membuat buku ?? waduuuh…ini saja ibu cuma iseng2 kok….amatiran…

  2. 27
    anik Says:

    Ternyata membuat orang lain bahagia itu mudah ibuk ya… dan sederhana .. cuma kadang diri kita sendiri yang mempersulitnya

    Benar mbak,,,maka berpikirlah keras,,bekerjalah dgn semangat agar kita bisa menjadikan sesuatu sebagai sarana menolong orang lain…

  3. 26
    Bastiar Cik Din Says:

    Alhdllh saya bersyukur, ternyata ada orang yg selalu memberi insfirasi kepada sesama, untuk selalu bersyukur melalui upaya / tindakan nyata yg terpuji, seperti yg dilakukan oleh Ibu Dyah.
    Kalau boleh berbagi pengalaman, dari dulu saya selalu senang memberikan sesuatu yg menurut orang tersbut sangat berharga, sedangkan bagi saya barang tersebut sdh tdk berharga (dalam arti nilai jualnya) seperti koran bekas,baju,botol,onderdil kendaraan dll. Bahkan saya agak maniak melihat wajah orang berbinar ketika piutangnya saya bayar lebih cepat dari yg semestinya.
    Singkat kata saya bahagia melihat orang lain senang apalagi kalo saya ikut andil membuat dia bahagia.
    Nah semua ini ternyata harus dibiasakan, dan kita selalu berusaha mengoreksi diri kita sendiri apbl sdh muncul tanda2 yg berlawanan thdp kebiasaan tersebut.
    Trims Ibu,
    Inspirasimu selalu saya nantikan.

  4. 25
    Nina Says:

    ibu…tulisan ibu diatas yg miring membuat saya senyum-senyum sendiri karena “rumangsa’..hehehe…dicerita bu Tinah sejenak saya terlarut ikut merasakan perasaan bu Tinah yg dapat rejeki tak terduga…setelah dapat rejeki dr ibu pasti bu Tinah pengen segera ketemu anak perempuan semata wayangnya….bercerita tentang kegembiraannya, dan yg jelas pulang kerumah lebih awal dr biasanya..bisa slonjor istirahat…sambil mengenang kebaikan Ibu Dyah di hari itu…

    Iya mbak…ternyata …kalau kita mau…kita bisa membuat orang lain happy…dgn hal hal sederhana….maka…banyaklah berteman…melihat kanan kiri…agar terasah mata hati kita…weeeh…olehe ngasah ora nganggo cutter atau intan lho….

  5. 24
    damaz Says:

    waduh ibu…
    di blog ditulis yang tinggal di rumah cuma 2 lansia saja..
    lha bapak HZ tidak protes bu..??
    secara bapak kan masih & berjiwa muda….

    He..he..mau berjiwa muda atau apalah…kalau umur sudah lewat 50 tahun…ya…sudah pra lansia….lha wong sudah dipanggil eyang…

  6. 23
    edratna Says:

    Kita memang seringkali lupa, banyak orang lain yang tidak seberuntung kita….
    tulisan mbak Dyah membuat saya juga ikutan merenung…apakah saya telah cukup berbuat baik dan bersyukur?

    cerita ini saya ceritakan ketika saya menghadiri pengajian…teman teman merenung…dan bergumam…”…alangkah serakahnya kita ya….”…

  7. 22
    big sugeng Says:

    Wah Bu Tinah pasti seneng … bukan main. Pasti akan terkenang terus. …. Rejeki hari itu terasa begitu melimpah….

    Lantas nikmat apa lagi yang akan kita ingkari?

    Iya…saya pesan kepadanya untuk 2 minggu sekali datang mengambil sampah terpilah dan bersih…Hitung2 sodaqoh sampah,karena dia memang tdk mau minta uang..

  8. 21
    mikekono Says:

    kita memang sering
    tak pandai bersyukur
    lupa suatu saat nanti
    pasti masuk kubur…..
    banyak yang takabur
    hingga keceburrr…..
    dan tak bisa lagi maburrr
    btw, apa kabarnya Mbak Dyah
    yang baik hati :)

    baik…alhamdulillah…
    maaf saya lama tdk berkunjung…segera saya jalan jalan ke blog bang mike….

Pages: [3] 2 1 » Show All

Leave a Reply