Ibu…. dalam kenangan
Oct 26th, 2009 by dyahsuminar
22 Oktober 2009, tepatnya jam 04.55.WIB
Ibu Hj.Siti Djirzanah, telah meninggalkan kami, anak anak,menantu, cucu dan satu cicitnya dalam usia 74 tahun
Hampir 30 tahun saya bersamanya, menjadi istri dari anak sulungnya Herry Zudianto, menjadi Ibu dari 3 cucunya
Kenangan… kesan dan pelajaran beliau yang paling membekas adalah…
Ibu seorang pekerja keras, seolah tak pernah lelah bekerja sampai sakit yang serius menimpa Ibu
Ibu seorang yang sangat ramah… semua kalangan beliau kenal, silaturahmi beliau sangat luar biasa
Ibu selalu mengenalkan kami dengan seluruh kerabat, saudara dan sahabat sahabat dari bapak dan beliau
Ibu selalu menekankan kerukunan diantara kami bertiga…. (Pak Herry dan adik-adiknya), dan meminta anak sulungnya untuk bijaksana
Ibu tak pernah lelah mengingatkan dan memahamkan tentang keutamaan ibadah, sholat, puasa, zakat…. dan ibadah-ibadah lainnya.
ibu juga berjiwa keras…. selalu ingin didengar pemikiran dan pendapatnya, tak ragu mengemukakan hal suka dan tak suka kepada siapapun
Ibu senantiasa ingin tahu dan ingin belajar tentang apapun, bahkan diluar kemampuan pendidikannya yang terbatas
ibu adalah sosok yang tak pernah putus asa, termasuk dalam perjuangan dan upaya kesembuhan penyakitnya yang demikian berat
Selamat jalan ibu…. semoga Ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah, diterima semua amalan, diampuni semua kesalahan..
Kami anak, cucu, cicitnya selalu mendoakan Ibu….
Berikut sepenggal kenangan cucu sulungnya… yaitu anak pertama saya Pipiet (Alfita Ratna Hapsari) yang ditulis dalam Note Face booknya, seketika setelah mendengar Eyang putrinya meninggal..
“Sepenggalan Cerita” in memoriam Eyang-Tie Siti Djirzanah
Kamis pukul 11:50
Eyang tie ku adalah seorang wanita Jawa biasa,
yang sudah harus menikah di usia luar biasa belia
dan menanggung pahit hidup di usia muda
Bukan hal yang mudah untuk dicerna untuk seorang wanita jawa di jaman itu
Apalagi berdiri tegak dan tetap berjalan
Eyang tie ku adalah seorang wanita Jawa biasa
Ibu dari putra-putranya yg menjadi orang luar biasa…
Yang sudah mengenal apa itu arti emansipasi di tahun 50′an dulu
Walaupun dalam arti sederhana, bahwa wanita harus memiliki sikap
dan jiwa yg teguh dalam hidup
Eyang tie ku adalah seorang wanita Jawa biasa
Yang Memiliki kegigihan luar biasa
Dan merasa berdagang adalah panggilan hidupnya
Bukan hanya sekedar mencari nafkah
Tapi untuk memberinya semangat
Eyang tie ku adalah seorang wanita Jawa biasa
Yang punya kenalan luar biasa banyaknya
Gak pernah absen ke kondangan, dan pasti hadir di setiap pengajian
Dan selalu riang menyapa setiap orang di jalan
Sampai pernah aku menhitung sudah berapa kali beliau berhenti sejenak
Hanya untuk sekedar menyapa
Eyang tie ku adalah wanita Jawa biasa
Yang punya hati baja dan keinginan luar biasa
Susah ditolak dan selalu ingin didengar
Torehan semua masa dari kehidupannya
Eyang tie ku adalah wanita Jawa biasa
Yang raport ibadahnya luar biasa
Tidak pernah mengeluh kalo urusan menyangkut-Nya
Tidak pernah absen, bahkan sampe lembur untuk-Nya
Sakit sehat berangkat juga
Tidak pernah dihitung tidak pernah ditimbang-timbang
Eyang tie ku seorang wanita Jawa biasa
Yg diusia senjanya masih punya semangat luar biasa
Disela sela sakit yang melemahkannya
Sampai sampai aku merasa
Beliau pasti akan bertahan sangat lama
Eyang tie ku ternyata wanita Jawa yang luar biasa
Diantara semua memori tentangnya
Semua orang pasti punya cerita
Tidak harus seratus persen bahagia
Tapi bagaimana kita meghadapinya
Eyang tie ku ternyata wanita Jawa luar biasa
karena dari rahimnya lahir lelaki luar biasa
yg aku panggil papa
Yang begitu mencintainya
Sampai2 aku ragu apa aku bs mencintai ibuku sebegitu rupa
Selamat Jalan Yang Tie
Allah pasti memberi tempat terbaik untuk Yang Tie disisi-Nya
Ini bentuk penghormatan terakhir dari kami
terhadap semua pelajaran hidup dan cerita masa lampau
yang kau pernah ceritakan…….
We already missed you…..
Philadelphia, Oct 22nd 2009

December 30th, 2009 at 3:44 am
Teringat saya akan kegigihan seorang ibu tua dalam menekuni pekerjaannya… Sosoknya yang tegas berhasil membangun dan berkarya di bidang yang beliau pilih yaitu Melestarikan BATIK…. Dulu saya ingat sekali cerita-2cerita mengenai beli Ibu Dzir…yg terkenal sangat tegas dan keras kepada seluruh rekan2 sejawat…. Namun waktu saya dapat panggilan secara pribadi…dan bertemu dengan beliau secara personal……. Sungguh! Terselip di hati saya kekaguman dan keseganan terhadap beliau Ibu Dzir…. yang menurut pandangan dan hati saya adalah seorang Ibu yang Tangguh dan Business Woman Sejati…Keukeuh serta konsekuen dalam berkarya…. Kesuksesan beliau tidak akan mudah terhapus…dan Seluruh wejangan beliau kepada saya mengenai Kedisiplinan.Ketegasan.Kesungguhan dalam bekerja sangat meNoreh di hati saya….
Selamat Jalan Bu semoga ALLAH memberikan tempat terINDAH bagi IBU…. walaupun hanya bertemu 4 mata sekali saja..namun itu sangat berKESAN….:) dan menginspirasi saya dalam melangkah:)
November 21st, 2009 at 11:04 pm
nunut ndonga kagem yang-ti, mugi Allah pinaringan dalan padang, mugi sedaya kesaenan angsal piwales ingkang matikel-tikel, mugi sedaya kaluputan tansah pinaringan pangapura, lan mugi dados salah satunggiling umat ingkang ka-syafaat dening Rasul kita Muhammad Sallawahu ‘Alaihi Wasallam… Amien…
November 6th, 2009 at 10:12 pm
Ikut belasungkawa mbak
Semoga amal ibadah Eyang Tie diterima oleh Allah swt, dan keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan dan ketabahan.
Amien
November 6th, 2009 at 6:32 am
assalamualaikum wr.wb…
Benar Ibu,apa yg ditulis mbk.pipiet……eyang memang sosok yang sangat ramah…..pernah suatu kali ketemu di dokter gigi…..beliau mau menyapa ,ngobrol dan jg selalu tersenyum…..Semoga arwah beliau di terima di sisiNYA dan mendapat tempat yg dimuliakan Allah SWT…amiin…
November 5th, 2009 at 5:35 am
Turut berbela sungkawa, mudah2an Alloh swt menerima amal ibadahnya dan mengampuni segala dosa-dosanya dan untuk keluarga yang ditinggalkan semoga dapat meneruskan perjuangan dan cita-cita beliau, selalu mendoakan dan menyambung silaturakhim. Amiin
November 4th, 2009 at 7:18 am
Salam Takzim
Mengujungi bunda di siang hari dengan tetap tiada bosan berdo’a semoga bunda tetap berada dalam keranda kebahagiaan bersama keluarga tercinta
Salam Takzim Batavusqu
November 4th, 2009 at 4:44 am
Turut berduka atas meninggalnya ibunda tercinta
November 4th, 2009 at 3:41 am
Nderek bela sungkawa ibu, mugi2 amal kesaenanipun pun tampi kalih Gusti Allah.Amin
November 3rd, 2009 at 12:58 pm
Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un… Trt berbelangsungkawa bunda, insyaallah Yang Tie diterangkan jalan kuburnya, diampuni segala khilafnya, dan mendapat surga di sisi-Nya… Insyaallah
November 3rd, 2009 at 8:47 am
Ikut berduka cita yang sedalamnya.
semoga diterima di sisi Tuhan , Amiiin…