Pak wali,… kok gak “Pede”
Dec 1st, 2009 by dyahsuminar
Lho…pak wali mana nih maksudnya..? Wali kelas, Wali murid atau walikota…. yang benar Pak Walikota, alias mantan pacar saya, yang sudah hampir 30 tahun hidup serumah dengan saya..
Karena…sudah sejak hampir 2 tahun ini, kami tinggal berdua dirumah.. tanpa anak dan cucu… karena semua jauh. Untunglah masing-masing kita punya wilayah kesibukan… yang tak ada habisnya, sehingga hari-hari kami lalui dengan senang, penuh dinamika…. walaupun sering tak punya waktu untuk diri sendiri.
Sampai suatu sore…. sambil ngobrol di teras dalam, suami mengatakan “Ma, besok wakili saya ya…. harusnya undangan itu untuk saya… tapi saya nggak hadir saja lah…”
“Lho…acara apa? Lha saya kan bukan Wakil Walikota, Sekda, Asisten Sekda atau kepala dinas? Saya kan ketua PKK.. ketua YKI” Sampai kapanpun saya tidak mau menjadi wakil dari walikota dalam konteks acara resmi maupun pekerjaan dinas.”
“Itu lho… Acara Launching…. Hmmm… Klinik Konsultasi Berhenti Merokok di Puskesmas Kecamatan Mergangsan “
“Oh ya… PKK selaku pembina program perilaku Hidup Bersih Sehat juga dapat undangan sendiri… dan saya mau datang… karena ini program sangat COCOK… dan Bermanfaat.”
” Nah…sekalian meresmikan ya… ada 18 Puskesmas serentak membuka Klinik Konsultasi berhenti merokok, acara resminya… ya besok itu”. Itu komintmen yang bagus sekali, hasil upaya Dinas kesehetanan dan beberapa lembaga.
“Nah…kenapa saya…?? kan mestinya undangan meresmikan untuk pak Walikota ?”…nanti kan jadi aneh..”
“Hmmmm….soalnya saya BELUM bisa berhenti MEROKOK, jadi saya tidak bisa meresmikan Klinik itu, saya jadi tidak konsekuen”…
“Oooalaaah…itu to sebabnya, lha wong cuma MEROKOK saja kok dibelani/ di bela belain. Apa to untungnya? orang merokok itu membohongi diri sendiri dan tidak tahu matematika.. dan kadang-kadang buta huruf.”
Lha kok bisa….?…Inilah sekedar ulasannya…
Kita semua tahu… rokok merupakan salah satu sebab utama munculnya penyakit kardiovasculer. Dan kita semua tahu pada bungkus dan iklan rokok selalu tertulis….” merokok dapat menyebkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin “. Dan dalam rokok mengandung kurang lebih 12 zat tak berguna… karbon, NIKOTIN, arsenic, aceton, methanol, toluene, hidrogen syanida, amonia, vynil choride, phenol, hidrogen sulfida.
“Saya menghisap rokok putih kok… mahal… dan import lagi …”, suatu saat beberapa perokok membela diri. Yang lainnya menimpali…” kalau saya kretek… tapi dengan kadar nikotin rendah”. Dan suami saya mengatakan… “Ooo..kalau saya cinta Indonesia… rokok buatan dalam negri… dan rokok putih lagi, dengan kadar tar dan nikotin rendah”.
He..he….he…1001 alasan… kalau perokok membela diri, bisaaa aja. Calculatornya rusak… dan tak bisa berhitung… bahwa apapun alasannya… kalau 1 hari sekian batang… 10 batang, 20 batang , setahun…. kira2 7000 batang… dan bertahun tahun berapa nikotin dan tar serta zat tak manfaat yang dihisap?? Belum lagi.. tidak sopan dan menganngu lingkungannya.. serta berapa uang yang dibakar? Walaah…, kok tidak ada manfaatnya ya… coba kita hitung Rp.7000 x 2 X 30 x12 = Rp.5.040.000/tahun…bisa untuk bayar cicilan rumah atau bayar sekolah.
Dan sudah sangat jelas WHO menyebutkan 5 juta orang meninggal setiap tahun, akibat penyakit yang dipicu oleh rokok. Dan 80% lebih penyebab dari kematian itu disebabkan kanker saluran pernafasan, kanker paru dan bronkhitis kronis.
Kota Yogyakarta, yang dikenal dengan kecerdasan masyarakatnya… ternyata belum berbanding lurus dengan hasil pendataan PHBS. Karena masih ada lebih kurang 56,33% rumah tangga dengan anggota keluarga yang merokok…. Eiiit….jadi….Kalau ada 2 rumah… pasti salah satunya ada anggota keluarga yang merokok.
Nah, masalahannya… kenapa demikian sulit membebaskan diri dan keluarga dari merokok ?
Ternyata…sebenarnya…80 % perokok ingin berhenti merokok, tetapi…hanya 3 % yang berhasil, sedangkan 77% lainnya… ingin berhenti tetapi belum mampu dengan berbagai alasan antara lain, perlu pendampingan. Oleh karenanya, beberapa waktu yang lalu di seluruh Puskesmas di kota Yogyakarta telah di buka 18 Klinik Konsultasi Berhenti Merokok.
Tetapi… apapun upaya pemerintah dan lembaga lembaga lain, tidak akan ada gunanya apabila tidak ada niat perokok untuk mengurangi jumlah rokok, masih merokok pada tempat yang tidak diijinkan, tidak mempunyai dorongan berhenti merokok secara pribadi.
Ayooo bersama saya bagi 50% yang tidak merokok… kita dukung program Klinik Konsultasi berhenti Merokok, kita sampaikan kepada masyarakat… mulai anak-anak, remaja, dewasa. Bahwa Merokok itu tidak bermanfaat, serta kita nyatakan bahwa kita merasa TERGANGGU apabila ada yang merokok di dekat kita, apalagi di ruang tertutup…
Ketika mereka.. para perokok makin sempit ruang geraknya… minimal akan mengurangi jumlah dan frekuensi rokok yang dihisap, dan akan menjauh ketika merokok sehingga tidak mengganggu lingkungannya. Akhirnya kita harapkan akan memutuskan untuk mengurangi 50% s/d 70 % dan mudah mudahan berhenti dengan kesadarannya sendiri.
Terimakasih kepada pendukung di face book…. mendukung pak Herry.. Pak walikota untuk berhenti merokok. Mudah mudahan ada hasilnya… dan menjadi percaya diri ketika meresmikan hal-hal kesehatan.. Karena kami telah lulus Perilaku Hidup bersih sehat… dimana indikatornya adalah anggota keluarga tidak merokok..


March 24th, 2010 at 6:43 pm
Berita yang menarik.
March 22nd, 2010 at 3:21 am
Lama gak kemari…
Bgm Kbrnya Bu, sehat saja khan…
wah lama saya gak ke Jogja juga.. kapan bisa kesana lagi ?
January 24th, 2010 at 3:26 pm
Bagus sekali kliniknya bu. Saya pikir ini pelopor, belum ada duanya di kota lain. Salut, pak walikota.
Hidup tanpa rokok, mantap. Karena saya gak perokok sih…
December 31st, 2009 at 11:40 am
he..he..ketawa dulu bu, saat membaca alasan bapak tidak mau datang ke acara itu

bapak saya sampai umur 55an baru mengurangi merokok, saat adik sudah di rumah dan menjadi ’satpam’ bagi bapak
setuju dengan ulasan ibu ttg rokok.
December 21st, 2009 at 3:02 pm
Saya mendukung kampanye gaya hidup tanpa rokok di Balaikota.
Rasanya sungguh indah bila bisa menghirup udara bersih tanpa polutan asap rokok di lingkungan perkantoran khususnya di lingkungan Balaikota.
Sepaham dengan Bunda, saya sangat mendukung Pak Herry untuk bergaya hidup bebas rokok. Pak Herry masih menjadi bagian dari 53,3% dari masyarakat Kota Yogyakarta atau lebih dari separuh populasi penduduk yang tercatat sebagai perokok aktif (berdasarkan survei yang dilakukan Dinas Kesehatan).
Dukungan itu saya wujudkan pada tulisan di Kompasiana : http://kesehatan.kompasiana.com/2009/12/21/hanya-pak-herry-yang-tau-jawabnya/
Monggo silakan disimak juga
Salam Sehat….
December 21st, 2009 at 7:46 am
Mudah mudahan misi nya tercapai yah bunda dan pak wali bisa pede buat mengembannya he..he….
Itu difoto bunda klihatan tambah segar dan cantik yah