Feed on
Posts
Comments

Imlek dan sisi lain

Saat saya usia SD, telinga dan mata ini sudah familiar dengan IMLEK, karena saat itu warga keturunan Tionghoa di Indonesia merayakan acara Imlek dengan berbagai kegiatan ritual maupun kesenian pendukung.

Ada Barongsai, juga ada Wayang Potehi.. dan macam-macam kegiatan lain. Sekolah Tionghoa pun nampak ada di kota saya tinggal, Cilacap.

Saat orde baru berkuasa, banyak hal menghalangi warga keturunan untuk beraktifitas maupun merayakan ritual dan tradisi mereka. Larangan menggunakan nama Tionghoa, merayakan ritual tradisi dan hari raya Imlek sampai tulisan Cina serta berbagai akses yang tidak bisa di masuki oleh mereka demikian nampak.

Terlepas dari soal soal konflik, pengaruh negatif, dan masalah politik saat itu, mari secara enteng-entengan kita coba melihat sisi lain

He..he… positif saja ya… kita tanggapi… mungkin maksudnya agar mereka menjadi Indonesia sejati…. punya rasa nasionalisme yang kuat, karena mereka sejatinya lahir, hidup dan besar serta mencari nafkah di Indonesia. Dan realitanya banyak dari warga keturunan yang belum pernah ke negara asalnya dan tidak paham akan adat, ritual nenek moyangnya secara lengkap.

Saat Gus Dur menjadi presiden…. beliau menghapus segala diskriminasi yang ada, termasuk didalamnya di bolehkan bagi warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk merayakan Imlek secara terbuka. Angin segar untuk mereka, karena ekspresi dan keberadaan mereka lebih mempunyai ruang gerak dan keleluasaan.

Kita tentunya menyadari bahwa hampir di semua kota besar, di Indonesia maupun di luar negeri perkampungan mereka demikian dikenal, baik dari disain arsitekturnya maupun lokasi khusus dengan penandaan yang lain seperti gapura, klenteng, dsb. Demikian pula di Jogja, kampung Ketandan sangat kental dengan berbagai ciri khasnya, sekalipun tidak disebut sebagai kampung cina, tetapi sebagian besar bangunan dan interior beberapa rumah masih terlihat sangat spesifik.

Bahkan perayaan Imlek tahun ini di Jogja demikian meriah, menjadi tontonan dan hiburan masyarakat dan dapat memecahkan rekor MURI untuk Naga Liong terpanjang, kira kira 150 meter.

Ada sebuah cerita lucu dari saya, seorang yang tak merayakan Imlek. Walau berpuluh-tahun tinggal di Pecinan Malioboro Jogja, bertetangga dengan banyak komunitas keturunan Tionghoa, ha kok tidak sadar kalau hari hari itu sudah menjelang Imlek. Waah…kebangeten betul saya ini.

Pagi itu Sabtu 13 Februari… bergegas saya kepasar untuk mencari beberapa hal kesukaan suami dan anak saya Anien yang kebetulan di Jogja. Sampai di pasar Pathuk (pasar dimana berada di tengah kota dan banyak dikunjungi oleh warga keturunan Tionghoa), seperti biasanya.. untuk menyingkat waktu saya berbagi dengan mbak yang menemani saya… saya beli bahan bahan lauk, dia membeli sayuran.

Kesana-kemari didalam pasar… saya bergumam didalam hati… “kenapa ramai benar ya… padahal hari tidak lagi pagi. Ooo.. mungkin mereka selesai mengantar sekolah anak-anaknya “. Smpailah saya pada penjual jajan pasar terlengkap… setelah memilih ini itu… saya minta mereka menghitung…

Saya kaget “Lho….apa tidak keliru… saya cuma membeli 4 macam…kok mahal sekali”. Betul bu…ini saya ulang lagi menghitungnya…”. Saya penasaran…” Coba kenapa begitu mahalnya…pelan-pelan dan satu satu..menghitungnya”. Nah…naluri Ibu-Ibu nya muncul deh… itungan dan agak pelit…

Si Ibu pemilik kios menjelaskan… “Ibu..kebetulan yang Ibu beli harganya Rp.3500, perbiji…”

“Lho…biasanya kan cuma seribu” jawab saya.

“iya… ini kue Ku dan kue mangkok pink dan merah… hari ini sangat mahal… karena semua membeli untuk Imlek “

“jadi…hanya untuk hari ini saja ? “

“Betul Bu…kan ini 1 hari menjelang Imlek, sama mahalnya seperti makanan tertentu ketika 1 hari menjelang Lebaran.”

“Ooo….begitu…ya sudah….tidak apa-apa”, kemudian saya membayar jumlah yang mereka hitung. Sambil berjalan pergi saya terheran heran dan berpikir..kenapa bisa lupa ya kalau besok Imlek, dan kenapa kue itu menjadi mahal sekali.

Sampai dirumah… sambil membaca koran Sabtu 13 Februari, saya mejadi paham semuanya… kue Ku dan kue mangkok, serta kue-kue dan makanan lain yang berwarna merah menjadi bagian yang penting dalam upacara Imlek. Merah lambang keberanian dan mampu mengusir semua kejahatan, sesuai dengan mitos dan ritual yang di rilis oleh berbagai media. Oleh karenanya memakai warna merah saat acara Imlek adalah dianjurkan.

Selama ini pengalaman saya hanya sebatas… Liong sam si, barongsai, wayang potehi dan kue keranjang. Ternyata demikian banyaknya segala sesuatu yang berhubungan dengan Imlek. Dari rilis media, Acara acara di TV dan dekorasi pertokoan dan Mall serta makanan khas, kita dibawa ke suasana cerah merah dan kuning emas yang menandai Imlek.

Mudah mudahan keleluasaan perayaan ini tidak akan membuat teman teman menjadi eksklusif dan berbeda dengan kami, tetapi justru membumi dan mencintai keberagaman Indonesia. Teman-teman adalah orang Indonesia, yang saya percaya dengan berbagai cara dan pilihan hidup pasti sudah berkarya untuk membangun Indonesia dan, merasa memiliki Indonesia.

Lihatlah…dilingkungan warga keturunan Tionghoa… ada pak mentri, ada pengusaha ada dokter, ada kepala daerah, ada anggota DPR, ada PNS, ada artis yang semuanya berkarya dan bangga menjadi orang Indonesia. Karena riilnya Indonesia telah banyak memberi mereka, materi, alam. kebahagiaan, sahabat, dll, tanpa membedakan siapapun dia, maka kita harus melakukan sesuatu untuk Indonesia.

Selamat kepada para sahabat saya yang merayakan Imlek, kami ikut merasakan kebahagiaan dan kemeriahan yang di adakan dalam rangka perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Dari kepala daerah sampai Presiden, hadir dan memberikan perhatian pada perayaan Imlek dan Cap Go Meh di berbagai daerah. Semoga hal ini akan lebih mempererat kesatuan bangsa Indonesia tanpa membedakan suku, etnis dan asal daerah, semua punya tanggung jawab untuk membangun Indonesia…

5 Responses to “Imlek dan sisi lain”

  1. 1
    ikkyu_san a.k.a imelda Says:

    Bunda, saya di sini juga tidak sadar bahwa imlek sudah dekat. Yang ramai hanya pecinan di Yokohama saja. Bukan hari libur pula di sini.
    Tapi waktu saya pergi ke pecinan di Yokohama seminggu sesudahnya, gema “pesta” masih ada, sampai kami tidak bisa berjalan saking penuhnya. Katanya sih waktu itu akan ada parade.

    Budaya masing-masing daerah/etnis memang patut dilestarikan tapi kita juga wajib bekerjasama membangun negara kita, Indonesia.

    EM

    mbak Imel…terimakasih sudah respon tulisan bunda….
    memang di banyak negara budaya mereka demikian menonjol…mungkin karena mereka ada di mana mana ya..

  2. 2
    vizon Says:

    Bunda… budaya Cina memang sangat kental sejak dari dahulu. Tradisi keilmuan mereka juga sangat baik. Sehingga Rasulullah saja mengibaratkan anjuran beliau menuntut ilmu dengan “merantau ke negeri Cina”. Ada banyak hal positif dari budaya mereka yang patut dipelajari.
    Untuk kasus di Indonesia, saya setuju dengan Bunda. Bahwa memberi kebebasan bagi mereka untuk merayakan Imlek adalah sangat benar. Hanya saja, patut ditanamkan oleh para tetua mereka kepada generasi mudanya untuk menyadari sepenuhnya kalau mereka adalah orang Indonesia, bukan orang asing yang tinggal di Indonesia. Maka, tidak menjadi eksklusif adalah sangat benar adanya itu.
    Oya, saya juga sempat melihat-lihat pameran budaya Tionghoa itu kemarin. Sangat menarik, dan salah satu yang menarik adalah adanya ibu-ibu beretnis Cina yang mengenakan pakaian merah (seragam) tapi berjilbab. Mereka berbaur dengan baik, tanpa ada sekat sama sekali. Ini menunjukkan betapa perayaan ini telah menyatukan kita, tanpa peduli dengan perbedaan yang disandang…
    Salam saya Bunda

    Iya benar…selanjutnya kegiatan dan kehidupan sehari hari juga harus membuat mereka berbaur…menyatu menjadi orang Indonesia.

  3. 3
    nh18 Says:

    Karena Imlek tahun ini berdekatan dengan Valentine …
    Maka menurut pendapat saya …
    Tahun ini jadi semakin ramai perayaannya …

    Yang jelas …
    Saya juga tidak asing dengan kebudayaan ini …
    Sebab masa saya SD - SMP … saya sekolah di suatu yayasan yang sebagian muridnya merayakan Imlek …
    (walaupun waktu itu kelihatan sembunyi-sembunyi …)
    (membagikan kue kranjang aja sembunyi-sembunyi dan tidak menyolok waktu itu …)

    Salam saya Ibu Dyah

    Terimakasih pak…waah maaf saya belum sempat blog walking..ada saja repotnya..maturnuwun kunjungannya

  4. 4
    Tuti Nonka Says:

    Saya setuju sekali dengan kalimat Bu Dyah di akhir tulisan :

    “Mudah mudahan keleluasaan perayaan ini tidak akan membuat teman teman menjadi eksklusif dan berbeda dengan kami, tetapi justru membumi dan mencintai keberagaman Indonesia. Teman-teman adalah orang Indonesia, yang saya percaya dengan berbagai cara dan pilihan hidup pasti sudah berkarya untuk membangun Indonesia dan, merasa memiliki Indonesia.”

    Betul, semoga keleluasaan mengekspresikan budaya China ini tidak menjadikan teman-teman kita menjadi eksklusif, tapi sama seperti suku-suku lain di Indonesia yang meskipun berbeda tetapi tetap satu bangsa Indonesia.
    Imlek kemarin saya pas di Jakarta, dan sempat menonton barongsai di La Piazza, Kelapa Gading.

    Selamat datang kembali di blog sphere, Mbak Dyah :)

    He..he..maturnuwun mbak…blog saya sampai lumuten…lha suwiii banget nggak di tengok.lha wong repot kok ada sajaaa.
    Betul mbak…kita percaya tentu mereka punya rasa nasionalis ,walaupun dengan caranya sendiri..karena mereka adalah orang Indonesia..

  5. 5
    julianusginting Says:

    waduh…saya ketinggalan keluar negeri neh bu…kayaknya bagus2 yak. tapi saya masih cinta indonesia kok bu…dan berusaha melestarikan budaya indonesia tercintaaaa…

Leave a Reply