Tak perlu marah
Aug 30th, 2009 by dyahsuminar
Suatu hari….di Jakarta
Ketika saya akan pulang ke Jogja, driver saya bertanya.. “Besok, jam berapa Bu penerbangannya? Saya jawab….”flight pertama.. jam 06.10 sudah terbang, jadi setidaknya setengah enam kurang saya sudah harus sampai airport”
“Injih bu.. kalau pagi sepi kok, belum macet” katanya, kemudian saya berkata “Ya..kamu hitung saja, jam berapa kita harus berangkat, ojo nganti telat loo…” (hi.. hi..mulai ultimatum )
Mungkin saya yang terlalu khawatir, sehingga walau alarm clock yang saya setel jam 03.45 pagi belum bunyi, alarm otomatis diri sendiri membangunkan saya tepat pukul 03.00 WIB. Setelah sholat sunah dan mandi, beres-beres… jam 04.10 saya sudah siap. Saya panggil driver saya dan saya sampaikan kalau saya sudah siap. Kemudian dia mengatakan : “Sholat subuh dirumah dulu saja ibu, nggak apa-apa kok, nggak terlambat.”
Setengah kemrungsung dan separo tidak setuju saya sampaikan “saya masih dalam wudlu, saya sholat dibandara saja, saya khawatir terlambat.” Walau dalam hati saya berpikir…, saya ini kok aneh ya, ada yang usul sholat dulu dirumah kok tidak mau… Akhirnya saya menyetujui, untuk menunggu adzan, walau rasanya menit demi menit sangat lama (he..he..paranoid ya..) Segera setelah sholat subuh, saya berangkat… mulailah ujian perjalanan… Inilah Jakarta , selalu sulit diduga….pikir saya….
Lha…??? kok subuh-subuh sudah ada antrean panjang begini, waaah… orang Jakarta, sejak subuh-sudah mulai berangkat kerja. Saya mulai kemrungsung, kemudian saya bertanya kepada driver saya “Ada apa ini kok antrean panjang kayak gini?” Jawabnya “sedang ada perbaikan jalan Bu, cuma sampai disitu kok, nanti sebentar lagi juga lancar ” jawabnya tanpa ekspresi kemrungsung. Kemudian sampailah saya pada pintu masuk tol bandara… “lho…kok antrean lagi, kamu bilang masih subuh lancar.. piye nek aku telat iki?” …Saya mulai agak emosi.
Sampai di Terminal F, saya cepat cepat turun dan memanggil portir untuk membantu membawa 2 tas saya. Tanpa bicara apapun saya cepat-cepat masuk… Waduuuh, pintu masuk ke ruang cek in, sudah antre kira-kira 30 orang. Kok sekarang naik pesawat seperti naik bis saja… banyak sekali yang antre disetiap desk. Sambil melihat-lihat jam… 05.35WIB… saya tetap antre. Sampai didepan desk Garuda, petugas mengatakan... “lho kok baru datang Bu ? sudah jam 05.45… sebentar saya tanyakan, ini sudah selesai boarding”
Setelah menutup telpon dengan petugas dipesawat “Maaf Ibu, ibu terlambat, Ibu saya carikan penerbangan berikutnya Jam 07.45 WIB. Masih ada pada waiting list ke 5.”
“Kalau saya upgrade kelas bisnis?.” dengan perasaan kesal dan asal tanya saya sampaikan pada petugas. Waah…gara gara driver saya nih…bikin saya terlambat penerbangan pertama ke Jogja.
Akhirnya dengan terpaksa upgrade ke kelas bisnis, saya dipastikan mendapat seat… (walau mahaal sekali, dan sakjane eman-eman). Sambil antri ulang, emosi saya memaksa untuk menelpon driver saya yang sedang di jalan menuju rumah .
“
Nih…saya terlambat, saya terbang jam 07.45 wib, itu gara gara kamu . Kalau di Jogja, saya bisa pulang dulu kerumah, nah disini saya nunggu 2 jam tidak jelas”. Tentu dengan suara yang sangat tidak enak dan nada menyalahkan. “Oo…njih, mohon maaf ibu, di Jakarta kadang kadang sulit di prediksi” jawabnya. “Nah, sudah tahu seperti itu malah berangkatnya nelat nelat… piye to kamu ini, saya jadi harus menunggu berlama-lama disini”.
Setelah saya puas menyampaikan rasa kesal, lalu saya melanjutkan antre, sambil melihat kanan kiri. Dibelakang saya ada seorang ibu yang sudah sepuh, rambut warna perak karena seluruhnya putih, menggunakan blus kaos panjang, sepatu olah raga, nampak sehat segar . Beliau mendorong trolly bagasi yang berisi bag golf, koper dan hand carry. Nampak begitu tenang, santai dan tidak ada beban. Tanpa sadar saya menjadi lebih tenang, beliau tersenyum kearah saya. “Orang ini kok sewot amat”, mungkin demikian dalam hatinya. Waduh, sungguh malu, rasanya beliau mengamati ekspresi kemarahan saya, walau melalui telpon.
Hati saya mulai gundah… Lha, saya ini kok kebangeten,, ada tas kecil dan koper saja dibawakan porter, semua masuk bagasi.. sehingga saya bisa melenggang hanya dengan hand bag yang ringan. Karena masih menunggu 1 jam lebih, saya duduk menunggu pada salah satu Lounge di bandara. Dari kejauhan saya melihat Ibu yang sepuh tadi…sendiri, mengambil makanan, minuman, membaca… nampak sangat santai dan menikmati. Saya melirik ke beliau…Wah… hebat, mau travelling kemana ya… kok sendirian, sambil menaksir-naksir usianya… kira-kira 75 tahun lah.
Tiba saatnya boarding saya segera bergegas dan duduk, serta mulai membaca. Tanpa saya duga saya bersebelahan dengan ibu yang hebat tadi.
Dalam pembicaraan beliau menceritakan…
Umur saya sudah 81 tahun jeng, pensiunan dari Deparlu. Setelah pensiun, saya aktif di beberapa organisasi sosial. Ini saya mau ke Jogja, dari Bandara, singgah ke Novotel, kemudian berangkat ke Merapi Golf, ada turnamen sekaligus ingin ketemuan dengan teman-teman pensiunan. “Oooo…dugaan saya salah, saya kira usianya 75 tahun ternyata malah lebih 6 tahun dari yang saya duga”.
Besok saya ke Bali, bapak ( suaminya maksudnya ), sudah disana. Ada meeting dengan teman-teman dan juga Golf persahabatan. Kita kembali ke jakarta hari minggu… Hmmmm… saya manggut-manggut sambil berpikir.. sekarang hari Senin, berarti beliau bepergian 1 minggu dan terlihat sangat menikmati.
“kalau boleh tahu resepnya apa ibu, kok sangat sehat?” Sambil memasukkan buku tebal berbahasa Belanda, beliau tertawa…. “Mau tahu jeng ?”. “1 minggu 2 kali senam lansia, 1 kali seminggu Dansa ( wow…..), juga berenang seminggu sekali. Nah…tiap pagi kira-kira setengah jam, saya jalan kaki karena jalan kaki adalah olah raga yang sangat baik .Dan jangan lupa sebulan sekali atau 2 kali harus ketemu dengan teman-teman yang sama sama tua, untuk sekedar makan bersama dan ngobrol tukar pendapat disuatu tempat yang santai”.Dulu,saya memang pekerja keras.Dan saya menabung untuk hari tua,sekarang tinggal saya nikmati.
Oooo…saya tambah kagum. “Ibu mengkonsumsi vitamin apa saja ?” Yang jelas glukosamin, susu kalsium, buah dan sayur yang sangat cukup, kurangi lemak,minum air putih yang cukup. Pokoknya, makanlah hanya yang dibutuhkan tubuh kita. Bukan berdasar atas keinginan. “Satu lagi jeng… harus sering membaca, juga menulis apa saja, agar tidak pikun. Duduk minum teh atau kopi dan berlama lama nonton TV itu tidak sehat “Jangan terlalu terbawa emosi, santai saja…. temukan bahwa banyak hal dalam kehidupan ini banyak makna nya. Jalani saja,Tuhan telah mengaturnya “.
Saya terdiam, berusaha mengaca pada diri sendiri. Tentang sesuatu yang baru terjadi, kemarahan yang tak perlu. Sambil masih berusaha membela diri….. saya bertanya “Waktu Ibu masih aktif bekerja, seusia saya (52 tahun), apakah Ibu tidak sering terbawa emosi?” Lalu beliau menjawab “yaah…kadang-kadang, tapi betul-betul ibu selektif untuk marah. Jeng masih muda, masih banyak aktifitas, harus sehat dan pandai mengatur segala sesuatu” Hah…? Mana bisa.. marah kok selektif ? Terus saya berpikir…. dan mencocokkan dengan diri saya. Waduuh jadi malu, kok banyak yang tidak cocok.
Kira kira 40 menit kami mengobrol, banyak sekali hal yang saya pelajari dari beliau…. sambil berharap, mudah-mudahan saya bisa sehat seperti beliau.
Nah..seandainya saya bisa ke Jogja dengan Flight pertama, saya tidak akan ketemu Ibu hebat itu. Menyesal, kenapa saya mesti marah dengan driver saya. Ternyata saya mendapat pelajaran pengalaman yang sangat luar biasa.
Monggo para sahabat ….. siapa setuju dengan ibu hebat, yang mengatakan : “Yaaah….kadang kadang, marah itu harus selektif …..”.













