Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 468

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 483

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 490

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-settings.php on line 526

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-includes/theme.php on line 618

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 159

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 380

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 382

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 386

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/marganet/public_html/dyahsuminar.com/wp-content/plugins/paged-comments/paged-comments.php on line 481
Halaman Ibu Dyah
Feed on
Posts
Comments

Tak perlu marah

Suatu hari….di Jakarta

Ketika saya akan pulang ke Jogja, driver saya bertanya.. “Besok, jam berapa Bu penerbangannya? Saya jawab….”flight pertama.. jam 06.10 sudah terbang, jadi setidaknya setengah enam kurang saya sudah  harus sampai airport”

“Injih bu.. kalau pagi sepi kok, belum macet” katanya, kemudian saya berkata “Ya..kamu hitung saja, jam berapa kita harus berangkat, ojo nganti telat loo…” (hi.. hi..mulai ultimatum )

Mungkin saya yang terlalu khawatir, sehingga walau alarm clock yang saya setel jam 03.45 pagi belum bunyi, alarm otomatis  diri sendiri membangunkan saya tepat pukul 03.00 WIB. Setelah sholat sunah dan mandi, beres-beres… jam 04.10 saya sudah siap. Saya panggil driver saya dan saya sampaikan kalau saya sudah siap. Kemudian dia mengatakan : “Sholat subuh dirumah dulu saja ibu, nggak apa-apa kok, nggak terlambat.”

Setengah kemrungsung dan separo tidak setuju saya sampaikan “saya masih dalam wudlu, saya sholat dibandara saja, saya khawatir terlambat.”  Walau dalam hati saya berpikir…, saya ini kok aneh ya, ada yang usul sholat dulu dirumah kok tidak mau… Akhirnya saya menyetujui, untuk menunggu adzan, walau rasanya menit demi menit sangat lama (he..he..paranoid ya..) Segera setelah sholat subuh, saya berangkat… mulailah ujian perjalanan… Inilah  Jakarta  , selalu sulit diduga….pikir saya….

Lha…??? kok subuh-subuh sudah ada antrean panjang begini, waaah… orang Jakarta, sejak subuh-sudah mulai berangkat kerja.  Saya mulai kemrungsung, kemudian saya bertanya kepada driver saya “Ada apa ini kok antrean panjang kayak gini?” Jawabnya “sedang ada perbaikan jalan Bu, cuma sampai disitu kok, nanti sebentar lagi juga lancar ” jawabnya tanpa ekspresi kemrungsung. Kemudian sampailah  saya pada  pintu masuk tol bandara… “lho…kok antrean lagi, kamu bilang masih subuh lancar.. piye nek aku telat iki?” …Saya mulai agak emosi.

Sampai di Terminal F, saya cepat cepat turun dan memanggil portir untuk membantu membawa 2 tas saya. Tanpa bicara apapun saya cepat-cepat masuk…  Waduuuh, pintu masuk ke ruang cek in, sudah antre kira-kira 30 orang. Kok sekarang naik pesawat seperti naik bis saja… banyak sekali yang antre disetiap desk. Sambil melihat-lihat jam… 05.35WIB… saya tetap antre. Sampai didepan desk Garuda, petugas mengatakan... “lho kok baru datang Bu ? sudah jam 05.45… sebentar saya tanyakan, ini sudah selesai boarding”

Setelah menutup telpon dengan petugas dipesawat “Maaf Ibu, ibu terlambat, Ibu saya carikan penerbangan berikutnya Jam 07.45 WIB. Masih ada pada waiting list ke 5.”

“Kalau saya upgrade kelas  bisnis?.” dengan perasaan kesal dan asal tanya  saya sampaikan pada petugas. Waah…gara gara driver saya nih…bikin saya terlambat penerbangan pertama ke Jogja.

Akhirnya dengan terpaksa   upgrade ke kelas bisnis, saya dipastikan mendapat seat… (walau mahaal sekali, dan sakjane eman-eman). Sambil antri ulang, emosi saya memaksa untuk menelpon driver saya yang sedang di jalan menuju rumah .

Nih…saya terlambat, saya terbang jam 07.45 wib, itu gara gara kamu . Kalau di Jogja, saya bisa pulang dulu kerumah, nah disini saya nunggu 2 jam tidak jelas”. Tentu dengan suara yang sangat tidak enak dan nada menyalahkan. “Oo…njih, mohon maaf ibu, di Jakarta kadang kadang sulit di prediksi” jawabnya. “Nah, sudah tahu seperti  itu malah berangkatnya nelat nelat… piye to kamu ini, saya jadi harus menunggu berlama-lama disini”.

Setelah saya puas menyampaikan rasa kesal, lalu saya melanjutkan antre, sambil melihat kanan kiri. Dibelakang saya ada seorang ibu yang sudah sepuh, rambut warna perak karena seluruhnya putih, menggunakan blus kaos panjang, sepatu olah raga, nampak sehat segar . Beliau  mendorong trolly bagasi  yang berisi bag golf, koper dan hand carry. Nampak begitu tenang, santai  dan tidak ada beban. Tanpa sadar saya menjadi lebih tenang, beliau tersenyum kearah saya. “Orang ini kok sewot amat”, mungkin demikian dalam hatinya. Waduh, sungguh malu, rasanya beliau mengamati  ekspresi kemarahan saya, walau melalui telpon.

Hati saya mulai gundah… Lha, saya ini kok kebangeten,, ada tas kecil  dan koper saja dibawakan porter, semua masuk bagasi.. sehingga saya bisa melenggang hanya dengan hand bag yang ringan. Karena masih menunggu 1 jam lebih, saya duduk menunggu pada salah satu Lounge di bandara. Dari kejauhan saya melihat Ibu yang sepuh tadi…sendiri, mengambil makanan, minuman, membaca… nampak sangat santai dan menikmati. Saya melirik ke beliau…Wah… hebat, mau travelling kemana ya… kok sendirian, sambil menaksir-naksir usianya… kira-kira 75 tahun lah.

Tiba saatnya boarding saya segera bergegas dan duduk, serta mulai membaca. Tanpa saya duga saya bersebelahan dengan ibu yang hebat tadi.

Dalam pembicaraan beliau menceritakan…

Umur saya sudah 81 tahun jeng, pensiunan dari Deparlu. Setelah pensiun, saya aktif di beberapa organisasi sosial. Ini saya mau ke Jogja, dari Bandara, singgah ke Novotel, kemudian berangkat ke Merapi Golf, ada turnamen sekaligus ingin ketemuan dengan teman-teman pensiunan. “Oooo…dugaan saya salah, saya kira usianya 75 tahun ternyata malah lebih 6 tahun dari yang saya duga”.

Besok saya ke Bali, bapak ( suaminya maksudnya ), sudah disana. Ada meeting dengan teman-teman dan juga Golf persahabatan. Kita kembali ke jakarta hari minggu… Hmmmm… saya manggut-manggut sambil berpikir.. sekarang hari Senin, berarti beliau bepergian 1 minggu dan terlihat sangat menikmati.

“kalau boleh tahu resepnya apa ibu, kok sangat sehat?” Sambil memasukkan buku tebal berbahasa Belanda, beliau tertawa…. “Mau tahu jeng ?”. “1 minggu 2 kali senam lansia, 1 kali seminggu Dansa ( wow…..), juga berenang seminggu sekali. Nah…tiap pagi kira-kira setengah jam, saya jalan kaki karena jalan kaki adalah olah raga yang sangat baik .Dan  jangan lupa sebulan sekali atau 2 kali harus ketemu dengan teman-teman yang sama sama tua, untuk sekedar makan bersama dan ngobrol tukar pendapat disuatu tempat yang santai”.Dulu,saya memang pekerja keras.Dan saya menabung untuk hari tua,sekarang tinggal saya nikmati.

Oooo…saya tambah kagum. “Ibu mengkonsumsi vitamin apa saja ?” Yang jelas glukosamin, susu kalsium, buah dan sayur yang sangat cukup, kurangi lemak,minum air putih yang cukup. Pokoknya, makanlah  hanya yang dibutuhkan  tubuh kita. Bukan berdasar atas keinginan. “Satu lagi jeng… harus sering membaca, juga menulis apa saja, agar tidak pikun. Duduk minum teh atau kopi dan berlama lama nonton TV itu tidak sehat “Jangan terlalu terbawa emosi, santai saja…. temukan bahwa banyak hal dalam kehidupan ini banyak makna nya. Jalani saja,Tuhan telah mengaturnya “.

Saya terdiam, berusaha mengaca pada diri sendiri. Tentang sesuatu yang baru terjadi, kemarahan yang tak perlu. Sambil masih berusaha membela diri….. saya bertanya “Waktu Ibu masih aktif bekerja, seusia saya (52 tahun), apakah Ibu tidak sering terbawa emosi?” Lalu beliau menjawab “yaah…kadang-kadang, tapi betul-betul ibu selektif untuk marah. Jeng masih muda, masih banyak aktifitas, harus sehat dan pandai mengatur segala sesuatu” Hah…? Mana  bisa.. marah kok selektif ? Terus saya berpikir…. dan mencocokkan dengan diri saya. Waduuh jadi malu, kok banyak yang tidak cocok.

Kira kira 40 menit kami mengobrol, banyak sekali hal yang saya pelajari dari beliau…. sambil berharap, mudah-mudahan saya bisa sehat seperti beliau.

Nah..seandainya saya bisa  ke Jogja dengan Flight pertama, saya tidak akan ketemu Ibu hebat itu. Menyesal, kenapa saya mesti marah dengan driver saya. Ternyata saya mendapat pelajaran pengalaman yang sangat luar biasa.

Monggo para sahabat ….. siapa setuju dengan ibu hebat, yang mengatakan : “Yaaah….kadang kadang, marah itu harus selektif …..”.

A letter for you…

Dua minggu lebih saya berada di Amerika, bersama anak dan cucu..

Saat saya sampaikan pada Zee, cucu saya, untuk pamit, “besok Eyang akan pulang ke Indonesia”… “No..no… I dont want Eyang mama go home”, dengan sikap protesnya yang lucu.

Saya juga sampaikan, kalau Eyang sudah pulang… Zee tidak boleh nakal ya, agar Bunda dan ayah tidak marah. Dia manggut manggut tanda setuju.

Zee, ayah dan bundanya mengantar ke bandara John F Kennedy, New York, dimana perlu waktu kira kira 2jam menuju kesana. Setelah check in,kami masih sempat sarapan pagi dan ngobrol serta  menelpon pamitan dengan anak saya laki laki yang berada di Michigan.

Saatnya saya mendekati boarding…. kemudian saya peluk Zee erat-erat.. juga anak-anak.. sambil saya sampaikan  “hati-hati ya disini, mama dan papa selalu mendoakan kalian”. Saya meneteskan air mata… juga Pipiet, sedangkan Zee menangis setelah sadar bahwa saya benar benar akan boarding. Mereka menunggu sampai saya masuk ke ruang tunggu.

Setelah di pesawat, masih ada sedikit waktu untuk menunggu penumpang lain masuk,saya sempatkan sms anak anak “Mama sudah di pesawat,yang sabar ya momong Arziki..doa mama selalu..” sambil terus meneteskan airmata. Haru,senang, bangga juga berbagai hal teringat dalam pikiran saya..

Kalau saja mereka tak punya keinginan,cita cita yang sudah mereka pikirkan…tentunya akan tidak mau berjuang,repot, bersusah payah,mandiri di negri orang. Mama bangga pada kalian…mama percaya kalian sekeluarga akan memperoleh semua yang lebih baik,pengalaman yang sangat berharga untuk kehidupan selanjutnya.

Beberapa menit setelah mendarat di Sukarno Hatta, saya mengaktifkan telpon… Sms  dari ayahnya anak-anak dan Anien si bungsu, dengan isi yang hampir sama …. “mama sehat kan….welcome home, kami menyayangi Mama , tolong baca email dari mbak ( Pipiet si sulung maksudnya ).”

Tak sabar rasanya… saya buka email lewat ponsel… A letter for you, dari anak sulung Pipiet, suami dan anaknya Zee… Semoga bisa menjadi pengalaman untuk para Ibu, orang tua…. bahwa anak-anak kita sangat mencintai dan menyayangi orang tua nya..

Dear Mom,
You might be on the plane rite now, 
trying to survive the long flight back to Indonesia
But I hope you can read this note by heart...as always 
Two and a half weeks ago I picked you up
at the good ol' Kennedy airport
It's been a year since the last time I saw you
You are still as beautiful as I can remember, you didn't age at all
I just saw the lines of wise and strength there, 
grew stronger every single time I see you
Made me wanna find a mirror, 
to see If I also grew that line of wise and strength on my face
How I always wish I had those sign of "greatness" 
every single day since I was a little girl
 
I forgot when was the last time I put my arms around you, 
and kiss you on the cheek
with enthusiasm and a great amount of excitement...
I don't know since when the "unseen" distance grew between us, 
and made me feel to old
to be your little girl anymore
I guess being a grown up has set me apart from all those excitement...
And made me stop telling you my dreams and my passion, 
my jokes and all those unimportant thing,
all those had changes to "grown up" talks 
and my complaint oh how life should be.
I miss those time...
and having you here made me miss those moments even more...
 
It was such a short visit, but you traveled a long way to come
I knew that you had to have a shot for your back and foot pain
Just to make it here....conveniently
I really appreciate it, really mom, and I hope you know that...
Did you have a great time here dear Mom?
I really hope you did..
Despite all those "unseen" distance and my lack of devoted time,
my lack of mood and my lack of appreciation
I am not much of a host ;) 
but I hope we grew those comfort between us when you were here, 
the bond that we long forget...
the moments that we ( well at least I) missed
 
I hope I had done it differently...
to make your stay the most
I wished I devoted more quality time when you were here
I wished I was there when you were busy in the kitchen..
I wished I cooked all those meal with you, 
and shared the dishes cleaning time with you
I wished I had the gut to stay home and missed work
I wished I had not say nasty things at all...and listen to you more
I wished I did not book the crappy motel in AC and made u distressed :) 
I wished I stayed out from face booking, 
and woke up earlier to jog with you…..
I wished we chat some more, laugh some more and hugs some more...
 
It didn't take long for me to regret all those
When I saw your back going in to the departure gate,
I realized how much I already missed you....
And how much I enjoyed your company, 
and how lucky I am that you traveled
this far Ignoring all those just to be with us...
 
Looking at the neatly folded laundry you did to help me 
ha, I am spoiled lil brat when u were here....
I suddenly missed you even more
Checked my Inbox and you texted me :
"Mama sudah di pesawat,  yang sabar ya momong Arziki, mama selalu doakan"
I broke to tears  realizing that my effort of being a mother, 
could not be compared to yours
How my angers to my son often explode, 
and I can be real impatient It hit how you can deal with me, 
all rite through all this time..
The troubles I had put you into... all the nasty things
But you are here, and still not giving up...
So, what do I know about being a mom to 4 you?
 
Maybe I never told you this before...
But I am proud to be your daughter, 
grew up with all the values you believe in
The extraordinary strength that you always have
The one I always look up to 
when I felt like I'm at the bottom of the universe
That made me try sooo hard to make you proud, 
which in that event It might turn to a nasty situation..
 
But It is confirmed to me that when I hugged you this morning at the airport and
told you that I am sorry, you said "nggak apa2 mbak.."
That I know nothing about unconditional love, 
the love that I should give my son and daughter a long the way... in any event... 
and I want my children to know it and feel it the way you made me feel it
 
I am proud to be your daughter mom, and I will always am...
 
Have a safe trip home, you will definitely be missed
Thank you for visiting us
 
sincerely and love,
bunda, ayah n mas

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi para ibu, sahabat-sahabat bloger, para calon ibu, bahwa di manapun kita berada, meski terpisah jarak demikian jauh….Yakinlah, bahwa cinta  tetap menjadi perekat kasih sayang dan keakraban di antara kita…

Dua minggu berada di Amerika terasa sangat menyenangkan, karena setiap hari bisa bersama-sama anak dan cucu. Sampai sulit lagi saya mengingat tempat-tempat yang saya kunjungi mulai dari beberapa tempat bersejarah, center city di Philadelphia, New York, Atlantic City, Pusat perbelanjaan, juga kebun konservasi tanaman yang demikian indah di Long wood Garden.

Zee, cucu saya yang belum genap 4 tahun telah fasih berbicara bahasa Inggris dengan slang Amerika nya yang sangat khas. Bahkan ketika saya serta ayah bundanya ngobrol dengan bahasa Indonesia dan Jawa…. dia bertanya, apa maksudnya. Sangat berbeda dengan orang dewasa, untuk cepat belajar apapun, demikian lambat penyesuaiannya, mungkin karena memori kita terlalu penuh akan hal-hal lain.

Kegembiraan Zee, sangat saya rasakan ketika kami bersama sama pergi ke suatu tempat. Kebetulan anak laki-laki saya, Arief, dari Michigan bisa bergabung selama 4 hari bersama kami. Zee semakin berseri-seri karena ada Oomnya. Selama saya berada disana, Ayah dan Bundanya sering mengajak jalan-jalan, maklumlah kalau hari-hari biasa, anak-anak sibuk kuliah dan juga kerja sehingga tak sempat membawa anaknya ke tempat wisata, apalagi sampai menginap.

“Thankyou for taking me here, this place… and thankyou for eating here….” demikian yang selalu disampaikan Zee dengan wajah ceria ketika kami berada di tempat wisata maupun restoran. Saya terharu dan bahagia mendengarnya. Itulah anak-anak, ekspresi yang jujur terhadap apa yang dirasakan akan muncul secara spontan.

Yang menarik dari setiap tempat wisata yang kami kunjungi adalah demikian bersih dan terawatnya, tanpa sampah sedikitpun, walau yang berkunjung di lokasi tersebut demikian banyak. Tidak terlihat jejeran tempat sampah yang berdekatan (seperti terlihat di lokasi umum di Indonesia), namun tempat-tempat tersebut tetap bersih. Hal kedua yang menjadi perhatian saya adalah hijaunya lingkungan disepanjang jalan dalam kota, disekitar daerah suburb dimana anak saya tinggal dan di kanan-kiri Highway yang menghubungkan kota satu dengan yang lainnya.  Dimana mana terdapat pohon-pohon tinggi, hijau dan tertata yang membuat udara segar, walau saat itu musim panas.

Barangkali, karena saya sudah berumur 52 tahun saat ini, sehingga untuk wisata belanja tidak lagi mendapat perhatian seperti sebelumnya. Kalau dibandingkan dengan Singapore dan Thailand.. untuk soal belanja… masih menyenangkan di Singapore dan Thailand atau  Jakarta misalnya, karena cukup banyak pilihan. Wood Burry common di dekat New York adalah  salah satu tempat dengan nuansa berbeda yang belum pernah saya lihat sebelumnya di negara lain. Di tempat itu terdapat ratusan Outlet produk fashion dan asesories dengan  merk internasional, mulai Chanel, Gucci, Burberry, Tods, Cole Han, Guess, Tommy Hilfiger, Nine west dan juga merk Amerika  lainnya yang jarang kita lihat di Negara Indonesia maupun Negara lain di kawasan Asia.

Di setiap Mal, supermarket besar, home furnishing yang saya kunjungi, saya terus mencari apakah ada produk produk Indonesia yang dipasarkan. Bersyukurlah kita, walaupun sebagian kecil saja, ternyata beberapa produk adalah made in Indonesia. Kranjang rotan, mebel rotan, kotak-kotak rotan multi fungsi serta hiasan-hiasan rumah dari kayu dan logam terdisplay disana. Sedangkan untuk produk makanan Indofood, ABC, serta beberapa bumbu makanan terdapat di supermarket Asia dan juga di toko-toko milik orang Asia (Vetnam, China, Thailand, dll).

Bahkan ketika suatu sore kami bertemu dengan komunitas muslim Indonesia di Philadelphia City, mereka mengatakan… “jangan khawatir Tante, disini apa-apa ada… terasi, kecap Bango juga ada, ubi, nangka, juga lengkap”. Benar juga, saat makan malam tiba, suguhannya adalah Udang asam manis, dendeng ragi, oseng oseng dan karedok…. juga tak lupa kolak ubi…. Weeeh… serasa di Indonesia.

Perhatian berikutnya yang menarik adalah, demikian mandirinya para lansia di Amerika. Menyetir mobil sendiri, mengantar cucu, belanja di supermarket (walau ada tempat parkir khusus untuk mereka yang dipriorotaskan), hidup di apartemen atau rumah rumah khusus lansia. Mereka masih bekerja di banyak tempat, di tempat wisata sebagai penjual tiket masuk dan perpustakaan serta toko-toko penjual baju (koleksi khusus untuk Ibu ibu). Hal ini membuat mereka sangat mandiri, selalu berpenampilan rapi, tidak pikun dan mempunyai banyak teman.

Saya bandingkan di Indonesia, yang berkecukupan akan hidup dengan penuh bantuan dari asisiten, pramurukti, sopir dan lain-lain. Sedangkan yang tidak berkecukupan akan merana, mungkin tidak sehat dan tak mampu bersenang-senang.  Walaupun dari hari kehari di Yogyakarta, kami membina lansia untuk mandiri tidak merepotkan dan persiapan menjadi lansia. Sedangkan untuk mempekerjakan lansia secara profesional di Indonesia, rasanya pengguna harus berpikir 7 kali… apa efektif ya ……?? secara yang muda saja banyak yang nganggur… Kalau yang tua kerja, trus yang muda suruh ngapain ya …?

Ayem rasanya bisa masak masakan Indonesia, dengan bumbu Indonesia, termasuk  bisa minum Indocafe 3in1, yang lupa saya bawa. Padahal… Ibu-Ibu sahabat saya di Indonesia… bila travelling kemana saja, kopi 3in1 dan teh celup merah (bukan green tea), menjadi wajib dibawa…. He..he….:roll: Indonesia banget… eh Jawa banget, sukanya Ngopi dan Ngeteh….

Dalam mobil saya rasanan dengan anak-anak, soal krisis nya Amerika, soal Obama apakah membawa perbedaan pada masyarakat umum, pandangan mereka terhadap indonesia atau Asia pada umumnya. Saya bertanya Indonesia, karena ketika kita melewati sebuah kawasan gedung-gedung pemerintahan di Philadelphia, terdapat  deretan bendera yang berasal dari negara-negara lain… kok Merah putih tidak ada… Lho…?? Kenapa ya ?

“Disini orang harus kerja keras ma, nggak bisa hidup kalu tidak kerja keras. Pemerintah sangat keras dengan peraturan, pajak dan hukum. Masyarakat dipaksa mandiri, untuk kelas menengah atas saja harus melakukan pekerjaan rumah sendiri, mencuci mobil sendiri, belanja sendiri, dll. Walaupun memang tersedia fasilitas publik yang memadai. Kalau di film-film yang kita lihat Donald Trump ya ma… waaah… itu sangat jarang, mereka kalangan menengah saja  harus sangat bekerja keras, karena tuntutan biaya hidup  disini juga tinggi untuk rumah, asuransi, kesehatan, transportasi, sekolah anak Play group sampai SMA, liburan dan bersenang-senang.

Saya lalu bercanda… “Wooo..lha kalau mama ini di Jogja, apa-apa dewe, nanti banyak pengangguran bertambah… karena sopir nganggur, mbak yang nyuci nganggur, yang masak nganggur, tukang kebun nganggur.. he..he..” Oalah…. kalau tak pikir-pikir orang Indonesia males-males ya… termasuk mama mu ini, apa-apa ada yang membantu”. Lha kalau tak kerjakan sendiri ubek dari pagi sampai sore, malah tidak bisa ke PKK, ke unit-unit usaha… hi..hi… :roll: saya membela diri…

Dan rata-rata orang disini hidupnya sudah terplanning, dosen ku, juga manager ku.. kalau liburan ke Florida, Bahama.  Waah…, hotel disana berapa ratus atau ribu dollar permalam ya…?? pikir saya. Juga nanti mama lihat, orang orang tua disini, menyetir mobil sendiri, bepergian berombongan, makan malam dan ngobrol dengan teman (dengan pakaian yang sangat rapi dan berdandan rapi). Mereka dengan tabungannya menikmati hari tua dengan bahagia, dan bahkan memilih tinggal di perumahan lansia yang cukup bagus dari pada dekat dengan anaknya.” Oooo…ya maklumlah, mestinya kalau lingkungannya sama-sama tua untuk ngobrol jadi nyambung…” kata saya.

Tapi ada juga ma yang bermasalah… mereka yang malas, tidak mau bekerja, seperti imigran dan pekerja ilegal, juga mereka yang mengaku miskin dan minta dibiayai negara, serta penunggak kredit yang luar biasa sehingga membuat negaranya defisit. Cuma bedanya ukuran miskin disini berbeda dengan kita di Indonesia. Teman teman kuliah ku banyak yang kuliah dengan biaya loan dari pemerintah, yang sampai mereka kerja sekian tahun, mungkin belum lunas. Artinya tidak semua orang Amerika punya lebih uang untuk membiayai anak-anaknya, apalagi budaya mereka, ketika seorang anak dianggap dewasa mereka punya tanggung jawab sendiri.

“Hanya memang mereka sudah sangat maju dalam pembangunan infrastruktur dan teknologi sehingga ada saja hal baru yang diciptakan, sehingga mampu menciptakan sesuatu untuk menjadi lapangan pekerjaan baru, penghasilan baru serta investasi baru.” Lha iya ya… dimana mana-mana kok saya lihat semua serba mesin… mesin cuci mobil, mesin laundry umum, mesin tukar uang, mesin transaksi bank yang bisa dilakukan dari mobil… hanya berhenti dan membuat transaksi lewat jendela, juga mesin kasir di supermarket, serta mesin parkir. “Nah… kalau itu di Indonesia…. berapa saja yang nganggur… kasir, teller bank, tukang cuci, tukang parkir, tukang batu… dll…” Anak-anak tertawa….. “Yah… untuk kita masih jauh lah ma, itu kan investasi besar, di Indonesia itu yang pas padat karya dulu agar bisa mengurangi pengangguran “.

Hari terakhir, bundanya Zee mengajak saya ke Longwood Garden. Sebuah taman yang sangat luas, dengan jenis tanaman keras sampai tanaman hias, tanaman sayur dan children area serta museum botani yang sangat menarik. Dia tahu persis Ibunya suka tanaman, dan saya sangat menikmati sekaligus bangga karena banyak dari tanaman tersebut tumbuh di Indonesia. Sayangnya  kita belum mampu membuat seperti mereka, terklasifikasi, ada colour grouping, ada pengelompokkan jenis, ada fasilitas makan minum yang memadai… dan kamar mandi dan WC yang selalu Wangi, kering, bersih dan indah dengan dekorasi pot-pot bunga hidup  yang cantik, juga dimana mana ada air mancur dan kolam dekoratif yang semua nya baik tanpa ada yang macet satupun.

Kalau di Indonesia…Taman Bunga, kebun raya, taman buah… bila ada fasilitas seperti itu, mungkin sudah laris dibawa pulang oleh pengunjung, mulai kotak tisu, pot-pot dan tanaman yang bisa dipetik atau dicabut. Bangku bangku di tengah taman juga tidak ada coretan-coretan grafiti seperti umumnya di tempat kita. Di sepanjang jalan dan sepanjang mata memandang tak nampak sampah sedikitpun, padahal saya baca disitu bahwa tiket week end sudah sold out, yang artinya pengunjung demikian banyak… kok tetap bersih.

Dua minggu tak terasa, demikian banyak hal yang bisa saya nikmati, terutama kebersamaan dengan anak dan cucu yang tidak ternilai harganya. Ketika saya ceritakan kepada cucu bahwa 2 hari lagi saya akan pulang ke Indonesia, dia nampak sedih…. I want Eyang mama stay here, all the time, drive me to school, pick me up and company me watching TV n read some  book before sleeping.

Banyak hal sebenarnya kita  di Indonesia mempunyai kelebihan… alam, hasil bumi, keunikan, budaya dan segala sesuatu yang bisa kita jadikan hal yang produktif, punya daya jual, punya daya pikat…. Nah, tinggal bagaimana kita mengolahnya. Nampaknya  otonomi daerah memang menjadi suatu kebijakan yang memberi keleluasaan untuk memajukan daerah masing masing, tetapi tanpa pengelolaan yang benar, kerja sama dan bantuan dari pemerintah pusat  serta kesamaan cita-cita… rasanya mimpi kita akan sulit terwujud.

Travelling

Tepatnya tanggal 17 juli 2009, saya berangkat ke Amerika menengok cucu. Transit di Hongkong 2 jam, kemudian langsung menuju JFK Airport di New York.

Cathay Pasific yang saya tumpangi, berangkat dari Bandara Sukarno Hata, menuju Hongkong memerlukan waktu 4 jam, kemudian Hongkong menuju New York perlu waktu 15 jam. Duuuh… lama sekali penerbangan yang harus dilakukan.

Karena alasan kangen dengan anak cucu, perjalanan hampir 20 jam tidak menjadi beban. Walaupun sendiri (karena suami tidak bisa cuti terlalu lama) terasa nyaman saja. Mulai membaca buku, nonton film TV yang ada didepan tempat duduk kita, dan mendengarkan musik, serta berjalan di gang pesawat agar kaki tidak terasa kaku, saya lakukan.

Saya jadi ingat penumpang sebelah saya ketika penerbangan Jakarta Hongkong yang mengatakan.. “Ibu mau ke New York…? lama sekali lho bu, kurang lebih 20 jam… Ibu harus sehat, kondisi kuat selama perjalanan..” Saya manggut manggut… “Iya… mudah-mudahan saya sehat”. Mungkin orang tersebut meragukan saya yang kecil mungil ini akan bisa kuat sampai New york.. Hmmm... kuat dan sehat bisa saja muncul karena punya niat ketemu cucu dan anak-anak…. dalam hati saya membela.

Pesawat Air Bus menuju New York, tak ada kursi yang kosong. Sempat saya hitung, penumpang berbangsa Indonesia tak lebih dari 10 orang, dari 330-an penumpang yang ada, terbanyak adalah warga dari daerah Tiongkok. Mereka banyak yang tinggal sebagai citizen di Amerika, maupun bekerja untuk beberapa waktu.Kursi saya bersebelahan dengan seseorang yang berasal dari Hongkong dan telah lama berada di New York,dia bercerita bahwa banyak warga Tiongkok yang tinggal lama di Amerika tetapi belum berbahasa Inggris dengan baik. Lho…kok bisa ? tanya saya, dia mengatakan karena mereka hidup, tinggal, cari nafkah disebuah kawasan yang kebanyakan adalah warga mereka, seperti di China Town misalnya.
Kalau selama ini banyak anak-anak Indonesia menimba ilmu di Amerika, mungkin yang terbanyak adalah di daerah LA, California, San fransisco, dll yang tentu saja suasananya sangat berbeda dengan New York dan sekitarnya.

Sampai saatnya pilot mengumumkan bahwa pesawat hampir mendarat beberapa waktu lagi, tak sabar rasanya ingin bertemu anak cucu. Ada hal yang sedikit konyol… walau bukan kali ini saja saya datang ke Amerika, tetapi hal kecil yang saya lupa adalah, membawa pecahan 1 US dollar.., yang ternyata penting untuk membayar dan mengambil trolly untuk membawa bagasi. Daripada ribet menukar uang, terpaksa, bagasi besar seberat 24,5 kg, saya tarik sendiri… walau lumayan berat, belum lagi masih bawa hand carry…

Alhamdulillah… setelah sempat ber sms-an dengan anak, yang menjemput saya, barulah saya bisa bertemu dengan mereka. Zee cucu saya, berteriak keras… “Eyaaaang mama…. Zee miss you”, sambil memeluk saya. Kegembiraan dan rasa rindu karena selama 1 tahun tidak bertemu nampak pada ekspresi kami. Ternyata, sejak kemarin “mas” ( panggilan untuk cucu saya, Zee ) sudah tidak sabar ingin jemput Eyang, cerita Ibunya.

Dalam perjalanan ke Philadelphia, kota dimana anak tertua dan suaminya belajar, kami mampir makan malam di Halal Food, New York, sekitar Manhattan. Saya terkaget-kaget, ketika di dekat perempatan jalan, tepatnya trotoar… ada kerumunan antre yang panjang.. Ternyata, kami pun menuju tempat yang sama…. dan rela antri yang demikian panjang. Oo…ternyata…. seperti masakan Timur tengah, campur rasa curry India, dengan sistem Take away dan porsi yang luar biasa besar, dengan harga sekitar 7 USD. Waah, kalau di Indonesia untuk porsi 3 orang sangat cukup. Sambil menunggu, saya menghitung, dalam 30 menit, penjual (ada 4 orang ), bisa melayani kira kira 15 orang, lalu berapa omset semalam ya ?…

Setelah sampai di apartemen anak saya, di daerah suburbnya kota Philadelphia, saya perlu waktu untuk beristirahat dan penyesuaian karena jet lag. Pagi harinya saya sempatkan berjalan jalan dan orientasi sekitar apartemen. Saya tanyakan pada anak saya, berapa sewa setahun..” kira-kira 15000 US ma”. Wah…kalau di Yogya sudah bisa menyewa rumah besar dan luas ya…. Hari-hari berikutnya… telah di jadwalkan oleh mereka untuk jalan-jalan. Kebetulan musim panas, sehingga mereka bisa memiliki waktu agak senggang.

« Newer Posts - Older Posts »